ROBIT.ID – Perkembangan dunia digital beberapa tahun terakhir semakin tak terbendung. Meski kemajuan teknologi ini memberi dua dampak yang bertolakbelakang, positif dan negatif, tetap saja semua orang berlomba-lomba untuk turut serta ambil bagian. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia hingga 2016 telah mencapai 132,7 juta. Padahal dua tahun sebelumnya, survei yang dilakukan Puskakom tahun 2014, jumlah pengguna internet di Indonesia hanya sekitar 88,1 juta orang. Artinya, dalam dua tahun pertumbuhannya lebih dari 50 persen.

Dengan jumlah sebesar itu, internet menjadi dunia baru yang menawarkan sejuta peluang. Tidak hanya masyarakat umum, perusahaan-perusahaan teknologi baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri berlomba untuk memenangkan ceruk pasar yang besar ini. Di saat yang sama, berbagai startup mulai bermunculan demi bisa ambil bagian dalam kancah persaingan yang menawarkan benefit menggiurkan, bahkan sudah ada pula perusahaan teknologi yang masih seumur jagung berhasil menggeser dominasi perusahaan-perusahaan papan atas yang sudah mapan sejak dulu.

Keberhasilan startup seumur jagung tadi telah membuktikan betapa besarnya peluang yang tersedia, yang apabila dimanfaatkan dengan maksimal akan memberi keuntungan di luar dari yang pernah dipikirkan maupun dirancang. Daftar orang kaya dunia pun ikut mengalami perubahan dengan munculnya miliarder-miliarder berusia muda pemilik startup atau perusahaan teknologi baru. Lihat saja pendiri Facebook, Snapchat, Stripe, atau pendiri media sosial dan perusahaan berbasis teknologi yang saat ini sedang naik daun dan berhasil mengisi pundi-pundi mereka dengan keuntungan luar biasa.

Munculnya Startup-startup Baru

Jika berkaca pada Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, kita tak akan menyangka bahwa media ini bisa besar seperti sekarang. Pada tahun 2003, Markmasih berstatus sebagai mahasiswa Harvard, yang menciptakan Facebook hanya sebagai media penghubung antar sesama mahasiswa universitas ternama tersebut. Namun apa yang terjadi sekarang? Pengguna aktif layanan jejaring sosial ini setiap bulannya menyentuh angka 2 miliar. Hal ini mengukuhkan Facebook sebagai jejaring sosial paling besar di dunia.

Pengguna Facebook bulanan
Pengguna Facebook bulanan

Facebook berhasil mengalahkan Whatsapp yang hanya sanggup menjaring pengguna kurang lebih 1,2 miliar. Sementara pengguna WeChat hanya berjumlah 889 juta pengguna dan media sosial berlambang si burung biru, Twitter, penggunanya kurang lebih 328 juta saja.

Melihat fenomena keberhasilan startup berbasis teknologi yang mampu berkembang sedemikian pesat dan dalam waktu singkat bisa meraih kesuksesan, wajar saja kalau banyak generasi milenial berlomba-lomba ingin membangun startup mereka sendiri supaya kelak bisa sesukses Mark Zuckerberg. Jadi, jangan heran kalau beberapa tahun terakhir, ada banyak startup baru bermunculan dan menjadi headline di media online maupun offline.

Jika menilik pasar lokal, kita bisa menemukan startup-startup yang sudah moncer, seperti Traveloka, Tokopedia, Bukalapak, dan Go-Jek. Nama terakhir malah merupakan startup yang menjadi Unicorn pertama di Indonesia. Istilah startup Unicorn mengacu pada startup yang memiliki valuasi senilai 1 miliar dolar Amerika (sekitar 13,1 triliun rupiah) atau lebih. Menurut Venture Beat, saat ini terdapat 229 startup yang masuk dalam kategori unicorn.

Membangun Startup

Bukan hal mudah membangun suatu startup. Ini fakta yang tak bisa diabaikan begitu saja. Startup hanyalah nama keren untuk perusahaan teknologi. Pada dasarnya, startup sama saja dengan perusahaan konvensional yang sedang dirintis atau dibangun.

Dalam survei yang dilakukan JobPlanet Indonesia pada 2016, diketahui bahwa banyak generasi millenial lebih tertarik melamar pekerjaan di perusahaan startup dibandingkan dengan perusahaan yang sudah besar dan memiliki nama. Bagi mereka, mendapat kesempatan bekerja di suatu startup jauh lebih menantang karena mereka dituntut pula untuk memberi sumbang saran dan ide kreatif demi pencapaian visi dan misi perusahaan. Selain itu, bekerja di suatu startup jauh lebih dinamis dan mereka bisa bekerja dan berkreasi dengan lebih bebas dibandingkan kalau bekerja di perusahaan konvensional.

Tren Startup di Indonesia
Tren Startup di Indonesia

Alasan lain generasi milenial lebih memilih bekerja di perusahaan startup adalah budaya kerja yang jauh berbeda dengan perusahaan konvensional. Dalam berpakaian, perusahaan startup membebaskan pekerjanya sehingga tidak heran banyak pekerja di startup yang masuk kantor hanya mengenakan kaus, t-shirt, dan jeans serta mengenakan sepatu kets. Sementara di perusahaan konvensional, kebanyakan pekerja diwajibkan mengenakan pakaian yang jauh lebih profesional, kemeja lengan panjang, celana kain, sepatu pantofel, dan jas untuk acara yang lebih resmi. Masalah kebebasan berpakaian ini hanyalah salah satu contoh perbedaan startup dan perusahaan konvensional.

Ternyata budaya kerja dinamis, aktif, dan kreativitas yang diusung banyak perusahaan startup mulai diadopsi penyedia tempat kerja, coworking space. Setidaknya, tiga tahun belakangan banyak sekali coworking space bermunculan di Indonesia, Jakarta khususnya. Di Jakarta sendiri, menjamurnya fenomena coworking space ini memudahkan para pekerja lepas dan orang-orang yang mendirikan startup bekerja seakan berada di kantor sendiri.

Pengguna Coworking Space
Pengguna Coworking Space

Coworking Space di Jakarta

Coworking space ini sering diartikan sebagai ruang kerja bersama. Mendengar makna ini, mungkin banyak di antara kita yang berpikir bekerja di coworking space berarti bekerja bareng-bareng dengan orang yang tidak kita kenal. Memang, pemikiran kita ini tidak sepenuhnya salah, sih, karena ketika kita bekerja di tempat ini, kita memang akan bekerja di satu ruangan yang kita gunakan bersama orang lain, tapi bukan berarti pekerjaan kita akan kita kerjakan bersama mereka. Yah, meski di kemudian hari kemungkinan munculnya peluang mengerjakan satu proyek bersama-sama bisa saja terjadi dan ini jelas sangat menguntungkan.

Pemikiran tadi ternyata sama dengan tujuan dibangunnya coworking space, yakni memudahkan pekerja lepas dan para pemilik startup, yang membutuhkan tempat kerja yang nyaman, sekaligus membuka peluang terjalinnya networking yang lebih luas sehingga kelak bisa saling berbagi peluang dan pekerjaan.

Dulu sebelum ada banyak pilihan coworking space, pekerja lepas, mahasiswa, ataupun profesional muda menghabiskan cukup banyak waktu bekerja di kafe-kafe demi mendapatkan suasana yang nyaman dan bisa sembari bekerja bersama rekan, klien, atau tim kerja. Sambil bekerja, mereka tentu akan semakin tenang bekerja dengan adanya minuman dan makanan yang bisa langsung dibeli sesuai kebutuhan. Nah, coworking space mengadaptasi dan menggabungkan konsep rumah, kantor, dan kafe sekaligus untuk memberi kenyamanan bagi para penggunanya.

Secara sederhananya, coworking space merupakan tempat kerja di mana kita berbagi area kantor dengan orang lain dari perusahaan atau organisasi yang berbeda. Meskipun konsepnya sederhana, namun tempat seperti ini memiliki banyak keunggulan dibandingkan tempat kerja pribadi ataupun kafe lho.

Fokus Utama Coworking Space
Fokus Utama Coworking Space

Keuntungan Bekerja di Coworking Space

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, dengan bekerja di coworking space kita bisa merasa sedang bekerja di tempat yang merupakan gabungan antara rumah, kantor, sekaligus kafe. Tentunya kenyamanan menjadi faktor terpenting. Lantas, apa saja sih keuntungan bekerja di coworking space?

Menurut Tech in Asia, terdapat 5 keuntungan jika kita memilih bekerja di coworking space dibandingkan tempat kerja lainnya. Mari kita bahas satu per satu.

Keuntungan Bekerja di Coworking Space
Keuntungan Bekerja di Coworking Space
  1. Lingkungan yang Kondusif

Dalam mendukung pekerjaan, faktor yang paling utama adalah lingkungan karena hal ini nanti sangat berpengaruh pada proses dan hasil pekerjaan. Jika lingkungan kurang kondusif atau tidak nyaman, maka sudah bisa dipastikan hasil pekerjaan kita kurang maksimal. Sebaliknya, lingkungan yang kondusif dan nyaman akan membuat kita menjadi lebih produktif dan hasil kerja kita pun akan menjadi lebih baik dan maksimal.

2. Berbagi Wawasan Kepada Members Lain

Dalam dunia startup dan freelancer, networking merupakan salah satu hal penting karena bisa menghubungkan banyak orang dengan beragam profesi hingga terbuka peluang untuk bekerja sama. Coworking space hadir sebagai wadah yang bisa dimanfaatkan untuk hal ini. Sekarang bayangkan aja, apa yang bisa terjadi ketika seorang desainer, penulis, dan programmer bertemu tanpa sengaja di satu ruangan, berkenalan, kemudian berdiskusi untuk bidang masing-masing? Bisa jadi kolaborasi ini akan menghasilan ide dan kesepakatan untuk mendirikan startup baru berbasis teknologi dan internet.

Hal lain yang bisa kita dapatkan ketika memilih bekerja di coworking space, kita bisa mendapatkan informasi pertama ketika tempat tersebut menyelenggarakan workshop maupun event-event keren berkaitan dengan teknologi dan dunia startup. Dengan mengikuti workshop dan berbagai event ini, kita bisa sekalian menambah ilmu pengetahuan, pengalaman, serta memperluas wawasan, yang nantinya bisa menjadi bekal bagi kita untuk mencapai impian-impian berikutnya berkaitan dengan profesi yang saat ini kita jalani.

3. Networking dan Peluang Bisnis

Ketika bekerja di coworking space, kita akan bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dan profesi. Awalnya mungkin terasa canggung karena kita belum benar-benar mengenal mereka. Tetapi karena seringnya bertemu (dan mau tidak mau berinteraksi) lama-kelamaan kita pasti saling kenal dan bisa berbagi pengalaman, berdiskusi, bahkan bertukar ide. Dari sini nantinya akan terbangun networking. Pada akhirnya, networking ini mampu membuka berbagai peluang bisnis yang bisa kita coba. Dengan kata lain, bersama para pengguna coworking space tadi, kita bisa berbagi ide-ide keren yang kemudian kita wujudkan dengan berkolaborasi bersama mereka.

4. Masuk ke Radar Media

Ini penting nih bagi kita yang hendak membangun startup atau berprofesi sebagai freelancer. Sebabnya adalah dengan diekspos media, startup kita bisa lebih cepat diterima masyarakat. Tentunya produk yang kita buat harus berbeda dengan yang lainnya. Artinya, produk atau jasa yang dihasilkan startup kita harus mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan menjadi solusi bagi permasalahan yang sedang mereka hadapi. Contoh nyata: Go-Jek dan marketplace digital.

5. Fasilitas Lengkap

Nah, hal lain yang membuat bekerja di coworking space lebih mengasyikkan adalah fasilitasnya yang lengkap dan benar-benar seperti berada di perkantoran mewah, peralatan yang lengkap seperti printer pencetak dokumen, slide proyektor, dan sebagainya. Selain itu, kita juga bisa ngopi dan menikmati camilan yang disediakan lho tanpa perlu membayar seperti halnya di kafe.

***

Dan sebagai seorang pekerja lepas, saya perlu menggunakan coworking space untuk menunjang pekerjaan. Kebetulan beberapa waktu lalu saya mengunjungi Ev Hive, coworking space di Menteng, Jakarta. Apa saja sih yang ada di EV Hive dan bagaimana kondisinya?

Yuk, simak pengalaman jalan-jalan saya ke coworking space ini.

EV Hive Coworking Space

Ruang depan EV Hive
Ruang depan EV Hive

Jika kamu sering baca-baca berita mengenai startup, pastinya kamu tahu tentang salah satu perusahaan yang moncer di bidang pendanaan startup-startup keren yang ada di Indonesia. Siapa lagi kalau bukan East Ventures. Venture Capital ini juga mendanai beberapa startup di Indonesia, seperti Tokopedia, Traveloka, Tripvisto, Bilna, dan masih banyak lagi.

Nama Ev Hive sendiri berasal dari “EV”-nya merupakan kepanjangan dari East Venture. Hingga saat ini, EV Hive di Indonesia telah mendirikan 7 coworking space yang bisa kamu gunakan untuk bekerja: di Menteng, Sudirman, Kebayoran Baru, bahkan hingga di BSD Tangerang.

Lokasi EV HIve
Lokasi EV HIve

Beralamat di pusat kota, menemukan Ev Hive yang berada di gedung Dimo Space lantai 2 ini mudah sekali ditemukan. Saya saat baca alamatnya dan dengan menggunakan aplikasi map di ponsel bisa langsung menemukannya. Saat keluar dari lift di lantai 2, saya langsung disuguhi ruangan berkonsep modern yang nyaman untuk bekerja. Warna temboknya biru muda, yang menimbulkan perasaan menenangkan, nyaman, dan meningkatkan fokus serta keinginan untuk segera bekerja.

Memasuki ruangan dalam, saya dihadapkan pada ruang kerja dengan meja-meja besar dan kecil yang bisa dipilih sesuai kebutuhan. Di setiap bagian meja, disediakan pula colokan listrik yang merupakan kebutuhan utama bagi yang bekerja sebagai freelance untuk mengisi daya laptop dan ponsel. Kursi-kursi di ruangan ini empuk dan nyaman digunakan untuk duduk lama. Kursi yang nyaman itu tidak membuat punggung pegal dan tulang belakang nyeri. Karena kebetulan saya datang bersama empat orang teman, kami pun memilih meja yang memang bisa diisi empat orang. Di sini, saya dan teman-teman saya bisa bekerja sambil berdiskusi.

Dengan konsep seperti ini, kita bisa bekerja dengan santai. Tak ada sekat antara satu sama lain. Tapi jika membutuhkan ruang yang lebih privasi, di sini juga tersedia kok. Tinggal register saja di meja penerima tamu yang ada di bagian depan ruangan. Di salah satu sudut ruangan terdapat rak minuman yang bisa kita nikmati, mulai dari minuman segar, kopi dan lain sebagainya.

Ruang Kerja bersama
Ruang Kerja bersama

Dengan tersedianya minuman dan camilan memudahkan kita saat haus dan lapar melanda. Kita tidak perlu keluar ruangan hanya untuk mendapatkan segelas kopi karena di sini telah tersedia. Bagi saya pribadi, bekerja asyik tentu ditemani segelas kopi yang menguarkan bau harum kopi yang khas. Kopi menjadi moodbooster terbaik dan bisa membuat saya bekerja lebih fokus. Inilah salah satu alasan saya merekomendasikan coworking space yang satu ini, suasana tempat kerja yang cozy banget dan kopi menjadi perpaduan yang pas dalam meningkatkan produktivitas.

 

Dinding Informasi
Dinding Informasi

Smoking Area

Tenang, bagi penikmat nikotin, EV Hive tentu saja tak mengabaikan hal ini. Tersedia ruang khusus sebagai smoking area. Sambil menikmati sebatang dua batang dan segelas kopi, kita tetap bisa berinteraksi dengan orang-orang yang kebetulan berada di ruang terbuka ini. Jadi, nikmat mana yang ditolak?

Harga Sewa

Ini sangat penting. Dengan fasilitas yang lengkap dan nyaman seperti itu, berapa sih yang harus kita bayar? Baik, saya akan menuliskan harga secara lengkap agar bisa menjadi pertimbangan kamu untuk menentukan pilihan paling sesuai dengan kebutuhanmu. Untuk penggunaan ruang bersama secara harian, kamu cukup mengeluarkan 50 ribu saja. Ini berlaku seharian, lho. Artinya, kamu bisa bekerja di EV Hive mulai dari pagi hingga sore. Biaya itu sudah termasuk meja kerja, wi-fi, dan minuman yang bisa kamu ambil kapan saja. Murah banget, kan? Kalau mau membandingkan dengan tempat lain, sudah pasti coworking space EV Hive ini sangat murah. Di tempat lain kebanyakan dihitung per jam penggunaan ruang.

Fasilitas Minum di EV Hive
Fasilitas Makanan dan Minuman di EV Hive

Jika yakin selama satu bulan penuh kamu perlu bekerja di coworking space, maka ambillah yang paket untuk satu bulan. Biaya yang dikeluarkan kurang lebih satu juta rupiah. Fasilitas yang kamu dapatkan selain wi-fi dan minuman, kamu juga bisa menggunakan ruang meeting, loker pribadi, dan gratis mengikuti event yang diadakan EV Hive.

Harga Sewa EV Hive
Harga Sewa EV Hive

Nah, murah banget bukan? Selain itu juga terdapat meja buku yang disediakan. Kamu bisa baca-baca buku yang tersedia di situ.

Tempat buku di EV Hive
Tempat buku di EV Hive

Kalo pengen lebih jelasnya kamu bisa ke:

Website: www.evhive.co
Facebook: @evhive
Instagram: @evhive.co
Email: info@evhive.co
Whatsapp: +62 8787 1111 880

  • Jarot Triguritno

    btw kok banyak banget ya yang usaha coworking,,,, yg pke bnyk jg ga?

  • Punto Wicaksono

    Saya kemarin mampir ke ev hive, asik jg sepertinya untuk bisa jadi tempat kerja harian disana..

  • Meipurple.com

    wah, jadi Singapore itu negara yang paling banyak start up yak. pantes…

    btw, jadi pengen coba ke Ev Hive, hihi. makasii ulasannya ka^^

  • Coworking saat ini emang solusi buat yang butuh tempat nyaman kerja terutama buat freelancer, yang kerja di dunia IT. Baik yang kerja seperti Start-Up atau bidang IT lain, butuh suasana yang kece buat nyaman mikir dan dapat inspirasi buat kerja, apalagi yg kerja bidang kreatif. Tempat yg nyaman ky EHive sih bisa jadi solusi apalagi di Jakarta, BTW koneksi internetnya gimana bro?

  • joko yugiyanto

    Mahal jg y

  • Rizka Wulandari

    Waaaaa cozy banget tempatnya. Bisa jadi rekomendasi baru 😀

  • Monica Anggen

    Bagus banget nih kayaknya tempatnya. Mau coba ah kapan2 kerja di sini. Apalagi murah bgt tu harga hariannya. Lebih murah dibanding tempat lain yang itungannya pake per jam.

  • lidha maul

    Kalau saya sebelum ada coworking space gak mikirin kafe mas, saya milih “ngantor” di perpustakaan. Sayangnya wifi nya sering lelet, gak nyaman buat kerja lain. Nah, yg gak enaknya lagi kalau lapar gak mungkin makan di tempat. So, emang enaknya “ngantor” di cowrking space aja ya.

  • Rinrin Irma

    kurangnya sih cuma satu ya kayaknya. Kerja di Coworking space gak ada fixed line. Eh, atau ada nih?

  • Aku pribadi sangat tertarik dengan konsep dinamis start up terutama cara berpakaian. Semoga EV bakalan nongol di Balikpapan