Menurut saya, hidup itu adalah mengatasi masalah hidup itu sendiri. Disini saya kepikiran tentang hutang-hutang saya kepada bank. Tak hanya satu, namun multi-bank.

Alhasil, di pertengahan siang yang terik ini saya kok rasa-rasanya seperti kepala mau pecah memikirkan masalah tersebut. Saya taksir, saya menghadapi atau mendapat lilitan hutang ini sekira hampir dua tahun silam.

Awalnya dikarenakan gaya hidup saya yang boros. Ya, sebelumnya saya tak seboros seperti belakangan ini. Itu semua berawal dari pekerjaan.

Di tahun-tahun awal bekerja, upah yang saya terima itu hingga habis bulan masih lebih dari 50 persen atau bahkan lebih. Kadang malah masih utuh. Karena saya bekerja sebagai seorang tenaga marketing, saya lebih banyak mendapatkan bonus serta insentif. Maka untuk gaji pokok tetap utuh ataupun berkurang namun sedikit.

Kesempatan itu yang membuat saya salah melangkah. Bukannya menabung, malah berfoya-foya. Beli ini-itu. Nongkrong sana-sini. Tak ada hari tanpa boros.
Keadaan seperi itu tidak berlangsung lama. Hingga pada akhirnya di pekerjaan saya, tepatnya perusahaan dimana saya bekerja mengalami perubahan yang sangat drastis. Seakan divisi saya terseok-seok. Bila diartikan juga seperti burung yang tak bisa terbang. Ia hanya berkutat pada sekitar. Saat ini saya hanya mendapatkan upah pokok saja. bonus dan insentif seakan meraihnya susah sekali.

Saya hanya bisa menggerutu dan memikirkan bagaimana ke depannya ini akan terjadi. Saya tetap menjalani seperti biasanya. Terpuruk? Ya, bisa dkatakan di tahap awal merasa terpuruk sekali. Namun setelah dipikir-pikir gak ada gunanya merenungi nasib dan apalagi tak ada aksi nyata. Kendati demikian, saya kadang masih labil. Bisa dikatakan saya menjalaninya tidak seratus persen. Masih berada dalam titik antara ya dan tidak. Saya berada di tengah-tengah titik tersebut. Saya tidak suka dengan keadaan seperti ini. Tapi apa boleh bikin, karena ini adalah kebijakan dari perusahaan.

Alhasil, dengan kehidupan yang boros maka namanya hutang menghampiri saya dengan perlahan. Masuk tanpa permisi dan lama-lama menjadi banyak. Kalau hitungan sederhananya, hutang saya saat ini adalah lebih dari lima kali pendapatan pokok saya setiap bulannya. Jadi, setiap mendapat gaji saya tak merasakan harumnya uang hasil jerih payah itu. Justru malah kurang. Kurang banyak sekali.

Beberapa ada yang saya cicil. Sebagian ada yang bayar kontan. Sisanya gali lubang tutup lubang.

Hutang itu sebenarnya mempunyai 2 sisi. Pertama negatif dan kedua positif. Jika diambil dari negatif, maka hutang menjadi hantu yang menakutkan. Hutang mengejar kita setiap hari. Ia tak mengenal waktu. Ia menghinggap di pikiran kita setiap saat. Hutang bisa menjadikan kita sakit, di tingkat selanjutnya adalah stres dan lebih parah lagi level yang paling tinggi bisa membuat kita gila dan mati. Itu semua karena hutang.

ditagih hutang
Jangan sampai seperti ini. Karena hutang jadi berantem. © sijuki.com

Lantas dimana positifnya hutang?

Bagi saya yang orang awam dan tidak mengerti apa itu perencenaan keuangan, atau yang expert di bidang finansial dan apalah-apalah itu namanya. Saya tak akan ndakik-ndakik menjelaskan tentang teori dan rumus-rumus yang njelimet. Pada intinya hutang bagi saya menjadikan motivasi untuk bekerja lebih giat. Mengeruk uang dengan kerja yang lebih keras. Hutang menjadi salah satu cambuk yang begitu sakitnya. Hutang menjadi pemacu segala kemalasan di dalam bekerja.

Satu persatu hutang saya terhadap beberapa bank saya selesaikan. Saya harus bisa menjaga nama agar history-nya bagus. Agar ke depannya jika ingin atau butuh dana tak akan disulitkan oleh pihak bank.

Bagaimanapun juga yang namanya hutang harus dibayar. Wajib. Tidak ada kompromi akan hal itu.

Dua tahun saya menjalani hidup dengan bayang-bayang hutang. Dan hingga hari ini bayang-bayang tersebut masih mengikuti dengan setianya. Saya sih tak perlu malu dan tak najis terhadap hutang. Karena namaya hidup tidak bisa diprediksi. Bisa sih mem-prediksi. Akan tetapi sampai saat ini, yang namanya pengelolaan keuangan di dalam diri saya masih nol. Ya, pengetahuan saya terhadap financial planning itu sangat rendah dan bahkan saya tak paham.

Setiap orang kalau ditanya tentang hutang dan bagaimana mengatasinya atau bagaimana menyikapinya akan menjawab dengan uraian yang berbeda-beda. Ada yang takut hutang. Ada yang suka sekali dengan hutang. Entah kepada teman, sahabat, atau bahkan orang yang baru dikenal dan sebagainya.

Hutang-menghutang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Namun satu yang pasti, jika punya hutang ketika ditagih jangan menghindar. Dan ingat pada janji saat kita ingin menghutang kepada teman, bank atau siapapun, harus sesuai perjanjian dan menepati janji. Komitmen dan kepercayaan di sini adalah kuncinya. Sekalinya engkau ingkar, maka engkau akan cacat dan tak bisa menghutang lagi terhadap orang atau instansi yang sama.

Dan semoga kejadian beberapa waktu silam di Sumatera Utara tepatnya Sibolga itu tak akan terulang di kemudian hari. Dua petugas pajak menagih hutang dan malah sialnya dibunuh oleh sang empunya hutang.  Jika ditagih itu mbokya jangan marah-marah.

Semoga kita-kita yang berada di jurang per-hutang-an segera dimudahkan untuk melunasinya. Semoga kita yang terlilit dengan hutang segera bisa melepaskan sedikit demi sedikit. Semoga kita semua bisa lancar rejekinya. Tuhan bersama kita yang terhimpit oleh hutang.

Mari kita lanjut bekerja untuk melunasi hutang-hutang kita. Cheersss!!!