— Seorang pria berjalan dengan langkah gontai, bertelanjang dada dengan kaos disampirkan di pundaknya. Mata merah, serta rambut acak-acakan. Ia pulang dengan pikiran yang kacau —

***

Malam itu salah satu warga di kampung kami menghelat hajatan menikahkan anaknya. Maka beberapa hari sebelum hari H berlangsung, para bapak-bapak sekitar rumahnya ikut “lek-lekan” atau ikut menjaga rumah semalaman suntuk hingga subuh menjelang. Sudah menjadi budaya di kampung kami, jika ada yang punya hajatan malam sebelumnya bapak-bapak berkumpul dan memilih tempat masing-masing untuk berjudi. Dari partai kecil hingga partai besar. Dari cuma mainan saja yang kalah dihukum coret-coretan di mukanya dengan arang, sampai berjudi dengan uang ratusan ribu.

Para bapak-bapak (Jagoan judi kampung)  tengah konsentrasi memainkan kartu domino di tangannya. Lebih dari empat orang membentuk lingkaran, di tengahnya terdapat tumpukan uang  pecahan lima ribuan, sepuluh ribu dan dua puluh ribu yang sudah lecek. Diperhatikan kartunya masing-masing dan dengan menghisap rokok bapak-bapak itu memperhatikan setiap pergerakan mata lawan. Sesekali menengguk kopi di gelas masing-masing. Obrolan-obrolan kecil terjadi. Suasana malam itu ramai dengan para penjudi, penjudi kelas kampung.

Lima menit kemudian putaran pertama dimenangkan oleh sebut saja pak Kentos. Pak Kentos sehari-harinya adalah sopir truk di kampung kami. Ia menang putaran pertama dan melanjutkan permainannya dengan agak angkuh. Begitu seterusnya ia menang hampir berturut-turut. Hampir setiap 5 menit, dikocok  kartunya Pak Kentos memimpin pertandingan. Pak Kentos, sudah mengantongi uang banyak.

Pak Kentos yang sudah bersenang-senang karena menang di awal, ketika pagi ternyata ia malah kalah. karena jika hampir pagi, uang taruhan judi semakin besar. Habis-habisan pokoknya. Nasib memang nasib, dari rumah niatnya ingin menang judi, eh malah pulang ke rumah uang di dompet lenyap tersisa dua puluh ribu rupiah. Padahal uang modal Rp 2 juta tersebut adalah uang DP dari tetangga untuk bayaran membeli pasir 3 truk dump. Bingunglah pak Kentos ketika pulang lalu kaos yang dikenakan dilepas, disampirkan ke pundaknya. Dengan langkah gontai, ia pulang. Matanya merah, karena tak tidur semalaman, dan masih memegang rokok sebatang dihisapnya dalam-dalam sambil pusing mikirin kekalahan tadi.

Begitulah kira-kira sedikit potret orang kalah judi. Tak semua seperti itu, tapi gambaran tersebut sering terjadi.

Permainan kartu remi, samgong, poker, empat-satu, erek-erek dan lainnya itu sudah lekat di kehidupan saya sedari kecil. Dulu, bapak saya adalah termasuk penjudi ulung. Dulu! Hingga sekarangpun kadang-kadang masih main. Tapi sudah jauh berkurang dibanding dulu. Setiap ada tetangga mempunyai hajatan, maka permainan judi dihelat. Bapak saya dan lawan-lawanya kalau main kadang tak ingat waktu. Hingga subuh lewat, bapak saya masih saja bermain. Jika sudah seperti itu, saya menyusul bapak saya dengan naik sepeda. Alasannya sederhana, dicariin Ibu. Nah ketika saya menjemput bapak saya itu, ia tak langsung pulang begitu saja. Ia masih melanjutkan permainannya hingga usai. Saya di sampingnya, kadang saya dikasih beberapa ribu dari lawan-lawan bapak saya yang menang agar saya tidak menunggu bapak dan langsung pulang atau saya mengganggu permainan mereka? entahlah. Suatu kesenangan tersendiri. Hehehe

Permainan semacam itu, sudah menjadi budaya di kampung saya. Maka pihak tuan rumah harus menyediakan rokok, dan jamuan  lainnya hingga pagi. Lhawong judulnya menjaga rumah si tuan rumah.

Jika permainan telah usai, maka sang tuan rumah diberi atau disisihkan sedikit uang dari pemenang judi partai tersebut, kami menyebutnya “duit cuk”. Hukumnya sudah wajib itu. Anggaplah, sebagai penyedia tempat.

Kegiatan saya menjemput itu, ketika saya masih kelas satu sekolah dasar. Jadi, saya jika dikasih uang oleh pemenang judi langsung saya jajanin di warung dekat rumah. Saya belikan astor semuanya.

****

Waktu berganti dan judi terus bersinar. Hingga tibalah saya sekolah menengah atas. Warisan bapak saya (judi) itu saya curi sedikit-dikit ilmunya. Saya dan teman-teman saya pun melakukan seperti itu. Tapi kami mainnya masih partai kecil. Namanya anak sekolah, dapat uang jajan pas-pasan. Kalau bapak saya mainnya setiap ada orang hajatan, berbeda dengan kami.

Kami bermain kartu (samgong) hampir setiap malam di rumah salah seorang teman. Sebut  saja pemilik rumahnya Mas Bagong. Jadi sekitar jam delapan malam kami sudah berkumpul di rumah Mas Bagong, si tuan rumah sekaligus merangkap sebagai pemain. Mas Bagong ini bukan warga asli kampung kami, ia pendatang dan pengantin baru. Ia menikah dengan perempuan warga kami. rumahnya tepat di sebelah rumah saya. Meskipun pendatang, ia cepat akrab. Akrab masalah judi. Ehehe

Kadang kalau sudah larut malam istrinya Mas Bagong marah, terpaksa permainan diselesaikan dengan agak dongkol. Beda hal dengan yang menang, distop di tengah jalan, adalah berkah bagi sang penjudi. Menang dengan cepat dan bawa duit masih “sore”.

Tapi kalah menang, kami tetap senang. Gak ada dendam sama sekali terhadap yang menang. Begitulah, profesionalnya kami. Jagoan-jagoan judi kelas amatir yang lagaknya seperti raja judi di film-film. Dari cara mengocok kartu, memperhatikan kartunya, serta gerak-gerik lawan. Kalau untuk saya sendiri sih, sering kalah daripada menang dalam urusan perjudian. Dari bola, kartu dan lainnya. Mungkin, ilmu yang saya curi dari bapak saya belum ke tingkat atas. Kemungkinan masih dalam tahap awal.

Teman-teman judi saya, sekarang sebagaian sudah mempunyai istri bahkan sudah memiliki anak. Mungkin kelak, cerita seperti ini bisa diceritakan ke anak-anak kalian, bahwa bapak kalian ketika mudanya bisa dikatakan jagoan judi kampung yang lagaknya bak raja judi! Hahaha

bersambung….

ilustrasi gambar dari indo-bet.com

SHARE
Previous articleRamadan Masa Kecil
Next articleKenakalan Masa Remaja

Writer | Blogger| Freelancer | Work at Setara Network