Hingga tahun 2016, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), DKI Jakarta memiliki populasi sebanyak 10,3 juta jiwa. Jumlah populasi tersebut setiap tahun terus meningkat hingga menyebabkan tingkat kepadatan penduduk di Jakarta juga terus bertambah. Akibat lainnya, meningkat pula masalah-masalah kependudukan yang harus dihadapi pemerintah, seperti masalah banjir, macet, dan sampah.

Berbicara soal Jakarta tampaknya tidak akan lepas dari persoalan banjir, macet, dan sampah. Tiga kata itu menjadi momok dari zaman ke zaman. Namun dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit pemerintah provinsi Jakarta terus melakukan program untuk menanggulangi permasalahan tersebut.

Persoalan sampah memang tidak bisa dikerjakan oleh satu pihak saja (Pemerintah), namun harus melibatkan beberapa lembaga terkait dan juga dari masyarakat. Hal ini membuat Pemprov DKI Jakarta dan Unit Pelaksana Kebersihan Badan Air Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta mengadakan diskusi yang diberi tema “Mewujudkan Jakarta Bersih” bersama netizen, blogger, dan influencer di Balaikota pada Rabu, 8 November 2017. Kebetulan saya juga berkesempatan menghadiri diskusi ini bersama teman-teman blogger.

Diskusi ini dihadiri oleh Ibu Dian Ekowati selaku KaDiskominfotik DKI Jakarta dan Bapak Ir. Junjungan Yunias R Sihombing, MM selaku Kepala Unit Pelaksana Kebersihan Badan Air Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta. Tujuan diadakan diskusi ini agar masyarakat lebih mengerti dan sadar terhadap persoalan sampah di Jakarta. Ke depannya diskusi semacam ini juga akan terus dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta.

Dengan diskusi bersama teman-teman yang berkecimpung di dunia online, tujuannya adalah bisa berkampanye mengenai sampah yang ada di Jakarta. Upaya ini adalah salah satu upaya yang jitu, sebab masyarakat Jakarta kini sudah akrab dengan internet.

***

Produksi sampah di Jakarta menurut Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Isnawa Adji, sebanyak 6.500-7.000 ton per hari. Jumlah tersebut sangat banyak jika kita bandingkan dengan kota-kota yang ada di Eropa, yakni sebesar 1.500-2.000 ton per hari. Artinya, Jakarta memproduksi tiga kali lebih banyak sampah. Dari jumlah sebesar itu, 90% berasal dari sampah rumah tangga.

Sampai sekarang masyarakat di sekitar bantaran sungai di Jakarta masih kurang sadar mengenai kebersihan sampah. Banyak yang membuang sampah di sungai. Hal ini menyebabkan sumber air bersih di Jakarta juga berkurang, padahal salah satu sumbernya adalah dari sungai.

Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta sudah jelas mengeluarkan larangan membuang sampah yakni No. 3 tahun 2013 tentang pengelolaan sampah pasal 126.

Setiap orang dilarang

  1. Membuang sampah ke sungai/kali/kanal, waduk, situ, dan saluran air lumbah
  2. Membuang sampah di jalan, taman, dan tempat umum
  3. Membuang sampah dari kendarann.

Nah bagi pelanggar di atas akan dikenakan denda maksimal Rp. 500.000. Namun peraturan ini masih banyak yang dilanggar oleh masyarakat.