Bagian 2.

(Biar lebih memhami esai ini, Anda harus baca bagian pertama)

Media lebih mempunyai fungsi untuk menjaga nilai-nilai kelompoknya dan mengontrol bagaimana nilai-nilai dalam kelompok tersebut dijalankan. Media akan membentuk dan membangun wacana atau image apa yang sesungguhnya layak, baik dan sesuai bagi mereka. Dan juga sebaliknya apa yang dipandang menyimpang atau menyalahi aturan dalam media itu sendiri. Media cenderung meminggirkan kelompok-kelompok yang tidak dominan dalam masyarakat (kelompok kecil) yang selama berthaun-tahun telah berperan penting dan memberi gambaran yang salah mengenai kelompok-kelompok yang tidak dominan tersebut. Biasanya stigma yang terjadi tidak secara alamiah tetapi dibentuk oleh pemberitaan media. Oleh karena itu media mainstream bukanlah medium yang netral, melainkan adalah sebagai  alat masyarakat dominan untuk melanggengkan kekuasaanya… pandangan masyrakat yang ada di masyarakat dimapankan!!!

 

Iklan, oplah atau rating hanyalah merupakan struktur atau dinamika dari media mainstream itu sendiri di dalam menentukan kecenderungan pemberitaannya. Kekuasaan tetap berada di tingkat paling atas dalam menentukan arah kecerendungan pemberitaan media mainstream atau media dominan. Siapa yang bisa menguasai media akan bisa menentukan pemberitaan media atau bisa diartikan dengan mudah dapat memanipulasikan fakta. Karena bagi mereka media hanyalah alat konspirasi yang menyembunyikan fakta. Dengan cara menampilkan fakta tertentu yang dikehendaki dan secara sadar mengelabuhi khalayak (orang banyak) untuk kepentingan kekuasaannya. Bagi penguasa / pemerintah harus berjalan dengan seharusnya (baik bagi kepentingan mereka). Untuk menjaga dan menguatkannya, maka digunakanlah lingkaran untuk membatasinya, yang pertama adalah militer baru kemudian Undang-Undangnya dll. Bagi yang melanggar akan mendapatkan sangsi dipenjara atau dihilangkan dari muka bumi yang indah ini. Di luar dari lingkaran-lingkaran tersebut, pemerintah membutuhkan media-media yang bisa dikuasai atau dimapankan menurut standar kesepakatan pemerintah / penguasa. Kekuasaan-kekuasaan dapat meliputi, kekuasaan negara, kekuasaan modal ataupun kekuasaan golongan atau komunal. Media memiliki gabungan antara ketiganya dan mampu merangkulnya. Di sisi lain media memiliki kekuasaan tersendiri yang mampu memilah-milah narasumber dalam keberpihakannya. Dan bagi penguasa untuk melakukan penaklukan-penaklukannya tidak terus menerus dengan kekerasan fisik, tetapi bisa melalui produksi dan reproduksi bermacam-macam teks dan wacana yang tentunya semua itu adalah tugas media.

 

Sebagai proses dan kontrol sosial di masyarakat setiap individu Punk seharusnya bisa jeli dan lebih kritis di dalam memaknai dan membongkar teks-teks berita tertulis atau visual yang tersaji pada pemberitaan media dan dapat menyuarakan wacana-wacana dan pandangan yang terpinggirkan. Pandangan dominan itu harus dibongkar, karena seringkali palsu dan menutupi pandangan mioritas yang bisa jadi ternyata lebih benar. Yang pada akhirnya mati akan ada justifikasi atau penghakiman pada pandangan tersebut karena lagi-lagi dilanggengkan oleh pemberitaan media yang salah kaprah, karena Punk di sini dapat dimaknai sebagai MEDIA juga, yaitu media perlawanan.

 

Kalau dahulu (kurang lebih 13 tahun) kata Underground kita tinggalkan karena makna underground sudah sangat terdistorsi sedemikian rupa, dan kemudian kita percaya dan mengusung prinsip-prinsip DIY dalam komunitas. Dan ternyata sekarangpun ternyata DIY telah “tergelincir” karena hukum serap-menyerap atau nilai-nilai DIY Punk di komunitas terus-menerus diserap dan diadopsi oleh masyarakat  dominan dengan jaminan-jaminan popularitas diri dan uang. Apakah nilai-nilai lama ini harus atau bisa dipertahankan?? Kalau dahulu ada kata “underground is dead… DIY still alive” untuk sekarang siapa yang dikatakan tetap hidup???

 

Akhir kata ini adalah sebuah lompatan-lompatan peikiran yang dirangkai menjadi satu esai “Jurnalisme Prasangka Buruk” dengan untaian kata disharmonis untuk menghindari pengurungan-pengurungan pemikiran yang dilakukan oleh penguasa untuk kemudian dijadikan suatu polemik yang tak pernah berkesudahan. Hargai pilihan-pilihan yang dilakukan oleh semua kawan-kawan yang ada di komunitas… baik itu yang hitam, putih atau abu-abu… yang mengatakan diri di ruang pertama, ruang ke-dua, ruang ke-tiga atau ruang ke-tigabelas sekalipun.  Who is Really Dead? … Media Perlawanan Still Alive!!!… UpThePUnk!

ilustrasi gambar dari orig07.deviantart.net