(Sebuah esai dari : AntiYangAnti – 19/07/2009)

 

Cheers… salam hangat,

Media…media…media, satu kata yang cukup menjadi perdebetan di komunitas kita akhir-akhir ini, yang sangat membuat kerancuan bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Media yang dimaksud di sini adalah media-media yang mendominasi dalam kehidupan “ber-negara” kita di Indonesia ini khususnya, atau bisa disebut media mainstream. Bisa kita jabarkan langsung pembagiannya, misal; media yang ada di dunia, biasanya adalah Televisi atau layar kaca yang sering disebut sebagai media audio visual (suara dan gambar), Radio sebagai media audio (suara) dan Koran, Majalah, Bulletin, Reklame, NeonSign dan sejenisnya sebagai media baca tulis. Media mainstream yang dimaksud di sini adalah media yang mendominasi secara kemenangan modal, oplah, berita atau kekuasaan.

 

Di sini saya hanya mencoba membuka suatu wacana yang kalau dibiarkan begitu saja akan memungkinkan matinya wacana tersebut atau pengkaburan akan makna asli tersebut. Sebenarnya banyak sekali wacana-wacana di komunitas yang sangat menarik untuk dibahas tetapi seringkali wacana-wacana di komunitas tersebut stagnan pada sebatas slogan saja tanpa ada pembahasan atau penggalian-penggalian makna pada wacana tersebut. Bahkan seringkali terjadi justifikasi (menghakimi) tanpa adanya bukti dan penelitan yang mencukupi. Dan tentunya wacana tentang media yang akan coba saya paparkan di sini sebatas relasi dan hasil positive-negative dari intervensi (campur tagan) media mainstream terhadap keberadaan komunitas Punk/HC/Skinhead di Jakarta khususnya mungkin juga di Indonesia pada umumnya dan penolakan-penolakannya. Saya berbicara mengenai keadaan di Jakarta karena di sinilah tempat tinggal dan penghidupan saya yang tentunya sesuai dengan porsi yang akan saya kupas di sini. Dan mudah-mudahan gaya bahasa yang saya pergunakan di sini tidak terlalu sulit untuk dimengerti.

 

Pertamakali yang harus kita kenali ketika kita ingin tahu lebih dalam akan “sesuatu” adalah mencari arti atau makna dari bahan tersebut. Kita mulai dengan kata MEDIA yang bisa diartikan sebagai sarana, tempat atau sesuatu yang bisa menghubungkan antara si penyampai dan yang disampaikan. Contoh ; Seseorang ingin menulis membutuhkan tools (alat-alat) untuk merealisasikan tulisannya tersebut, maka ia membutuhkan alat tulis seperti pensil, pulpen, spidol dll, yang di sini bisa dikatakan sebagai subyek. Ia juga akan membutuhkan kertas, kain, kanvas, tembok dll yang di sini bisa dikatakan sebagai obyek.  Jadi subyek tulis tadi seperti pensil, pulpen dan juga obyek tulis tadi seperti kertas, kanvas, bisa dikatan MEDIA si penulis. Contoh lagi misalnya ; manusia ingin berbicara membutuhkan mulut, untuk mendengar membutuhkan telinga, untuk melihat membutuhkan mata, juga yang lainnya. Maka mulut, telinga, dan mata adalah MEDIA bagi manusia. Atau Tuhan ketika ingin menyampaikan wahyunya melalui malaikat sebagai “media” perantaranya. Seorang mediator yang memposisikan diri sebagai dukun atau paranormal yang kerasukan roh (kesurupan) menjadikan dirinya menjadi MEDIA!!!  Ketika kita suntuk di rumah dan ingin surfing ke dunia sampah (dunia maya) atau internet atau dunia di balik meja, bagi yang tidak memiliki fasilitas internet di rumahnya bisa pergi ke warung-warung internet dengan menggunakan kaki atau menggunakan motornya sebagai MEDIA jalan, dan tentunya internet itu sendiri adalah MEDIA eksplorasi yang sangat luas bagi penggunanya.

 

Media adalah alat pemilik, yang berarti cermin  kepentingan dan pandangan pemilik, dalam konteks pensil, pulpen dan kertas bisa dijabarkan si penulis adalah pemilik, misal ; si penulis agar ingin tulisannya mengartikan bahwa sesuatu yang berbau “kiri” seperti ide Sosialis Komunis, ide-ide kebebasan, penyamarataan hak di Indonesia adalah buruk, karena si penulis ternyata seorang tentara yang otomatis berjiwa nasionalis atau mungkin si penulis adalah seorang agamais yang seringkali dikatakan di sini sebagai orang-orang “kanan” yang tidak menginginkan ide-ide “kiri” berkembang di Indonesia. Sangat tidak mungkin si penulis memberitakan pada tulisannya menjelek-jelekkan ide-ide “kanan” yang berarti sama juga menghujat dirinya sendiri. Jika ada hal berbeda tentunya hanya pada tingkatan pemberitaan yang proposional atau seimbang yang biasanya dibarengi oleh situasi kondisi yang mempressure (tekanan) si penulis yang berarti akan kembali lagi kepada kepentingan pemilik. Misal ; seseorang yang bekerja membuat zine-zine atau newsletters di scene D.I.Y dapat dikatakan sebagai jurnalis. Dan orang yang bekerja sebagai penulis atau pencari berita pada koran-koran (media) besar (mainstream) juga dikatakan sebagai jurnalis. Seorang fotografer-pun yang menangkap peristiwa dengan hasil jepretannya adalah Jurnalis.

 

Tetapi tingakat atau level “cermin kepentingan dan pandangan pemilik”nya sangat jauh berbeda. Pada levelitas jurnalis D.I.Y biasanya tingkat pressure sering terjadi pada situasi kondisi emosional dari dalam diri si penulis itu sendiri. Tentunya kawan-kawan di komunitas mengetahui begitu banyak zine D.I.Y yang terbit dengan segala dinamika esensinya masing-masing. Ada zine yang hanya membahas seputar isu-isu band, ada yang membahas ide-ide pembaharuan, ada juga yang cuma menjadikan zine-nya sebagai media curhat. Dan tidak jarang zine B terbit hanya untuk menghujat isi dari zine A yang sudah terbit terlebih dahulu, diperparah dengan terbitnya zine-zine selanjutnya yang isinya hanya hujat-menghujat.

 

Kalau pada levelitas Jurnalis mainsteam tingkat pressurenya (tekanan) lebih kompleks, ada tekanan dari owner majalahnya (pemilik modal), ada tekanan dari lawan-lawan sesama majalah untuk mengejar rating (oplah), ada tekanan dari pihak penguasa (pemerintah) yang tentunya sangat mempengaruhi nilai kebenaran dari berita tersebut. Penjabaran-penjabaran di atas hanyalah contoh-contoh kecil yang mengumpamakan dan menggambarkan bagaimana kata MEDIA sangat lekat sekali hubungannya dengan kata PEMILIK. Dari milik kata media itu sendiri, pemilik kepentingan, pemilik modal dan keuntungan, pemilik pekerjanya sampai ke pemilik kekuasaan. Kata media juga sangat lekat dengan kata kabar berita, jadi kalau saudara pertama dari MEDIA adalah PEMILIK maka saudara keduanya adalah KABAR BERITA!!

 

Kabar berita atau memberi kabar berita bisa diartikan juga memberitakan peristiwa yang terjadi yang kemudian direcord atau dicatat dalam bentuk tulisan, gambar atau foto. Yang berarti Media = memberitakan peristiwa!!! Suatu peristiwa hanya akan berarti jika ditempatkan dalam penjelasan secara kultural; (kebiasaan masyarakat yang akhirnya menjadi budaya atau kebiasaan) di mana tempat berita atau peristiwa itu terjadi. Artinya seorang Jurnalis atau wartawan menempatkan peristiwa ke dalam penggambaran atau pemetaan makna atau menempatkan kerja jurnalistiknya dengan nilai-nilai yang ada di masyarakatnya.

 

Dalam memproduksi KABAR BERITA ada semacam kesepakatan bagaimana suatu peristiwa dipahami dan dimaknai secara bersama-sama. Bagaimana anggotanya (komunitas) berbagi pengetahuan dan gaya bahasa yang sama. Mereka seperti terikat oleh suatu ikatan kolektif persaudaraan yang sama atau seragam sebagai sesama anggota. Yang pada akhirnya akan ada satu perspektif atau hanya ada satu pandangan saja dalam melihat suatu peristiwa. Jadi pemberitaan-pemberitaan tentang Punk di media massa atau mainstream bukan melulu karena media punya maksud tertentu atau media mengharapkan keuntungan semata, tetapi lebih kepada media itu sendiri tidak menyadari bahwa penjabaran kebiasaan peristiwa yang mereka beritakan hanya mencakup pada nilai-nilai yang disepakati oleh media si-pemilik media dengan kebiasaan yang lazim dan berlaku di masyarakat.

 

Ada bebrapa kebiasaan yang dipakai oleh Wartawan atau Jurnalis dalam memaknai dan menempatkan peristiwa. Tang pertama adalah seperti yang sudah ditulis atau diulas di atas yaitu kesepakatan itu tadi, di mana peristiwa menunjukkan bagaimana suatu kabar berita atau kenyataan atau fakta tertentu dipahami dan disepakati secara bersama-sama sebagai kenyataan yang sesuai dengan nilai-nilai ideologi suatu kelompok tertentu. Bisa juga peristiwa itu dijadikan sebagai kontroversi, bahwa suatu perilaku atau gagasan yang ada masih dipandang sebagai suatu yang masih diperdebatkan atau polemik. Dan yang terakhir adalah suatu peristiwa atau kabar berita dipandang sebagai sesuatu pelanggaran dalam hubungan dengan penguasa, atau dianggap sebagai penyimpangan, di mana secara pandangan umum suatu peristiwa atau gagasan atau perilaku masyarakat dipandang buruk dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat dominan tersebut.

 

Dari cara-cara memaknai di atas tersebut dapat dipahami bahwa peristiwa, perilaku dan kenyataan atau fakta yang sama bisa dijelaskan secara berbeda dikarenakan memakai kerangka yang berbeda. Dan sebaliknya peristiwa dan realitas yang berbeda bisa dijelaskan secara sama sesuai dengan ideologi dan nilai-nilai bersama yang dipahami oleh komunitas tertentu.  Sebagai contoh penjelasan realitas yang ada setiap hari di sekitar kita. Contoh ; hidup atau tinggal serumah tanpa status pernikahan di Indonesia dimakana dengan perilaku sosial yang menyimpang (kumpul kebo/ kumpul binatang). Karena Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam beranggapan bahwa laki-laki dan perempuan tinggal serumah tanpa ikatan perkawinan merupakan sesuatu yang dilarang atau diharamkan yang dihukumi dosa besar. Tetapi pada masyarakat Semi Liberal perilaku ini dianggap sebagai suatu kontroversi atau perdebatan (masih diperdebatkan). Bukan lagi dianggap sebagai suatu perilaku yang menyimpang. Dan pada tatanan masyarakat Liberal sudah menjadi kesepakatan bahwa perilaku hidup serumah tanpa status pernikahan ini diperbolehkan, karena dipada masyarakat Liberal suatu perilaku tidak diukur dari bagaimana sesorang mempunyai agama atau tidak, tetapi lebih memandang kepada hal merugikan atau tidak kepada masyarakat di sekitarnya.

 

Tetapi pemaknaan-pemaknaan ini juga bersifat dinamis terhadap siapa yang dikuasi atau menguasai pada masa kurun waktu tertentu. Misal ; sebelum era reformasi (1998) jaman kekuasaan Soeharto, pemikiran sosialis atau kiri dianggap menyimpang dan tidak mendapat tempat sama sekali di masyarakat apalagi dengan adanya TAP MPRS No. XXV tahun 1966. Tetapi setelah era reformasi pemikiran kiri sudah memasuki wilayah perdebatan, bahkan sudah masuk area kesepakatan yang pantas diberitakan sebagai salah satu bagian yang penting untuk dibicarakan. Ditambah dengan terpilihnya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur sebagai presiden yang mempunyai referensi-referensi hidup dari pemikir-pemikir yang dibilang kiri seperti Marx, Nietzhe, Leo Tolstoy, Noam Chomsky atau Alexander Bergman yang kita katakan malah sebagai pemikir-pemikir Anarkisme. Dan bukan tidak mungkin karya-karya seperti kaset dan lain-lainnya suatu saat nanti akan dianggap sesuatu yang menyimpang (dilarang peredarannya) bagi ketentuan dan perilaku masyarakat pada masa itu. Atau bahkan sebaliknya bisa jadi nantinya karya-karya tersebut malah menjadi suatu lagu wajib bagi pengetahuan akademik.

 

Selain dari pembagian tiga pemaknaan tersebut, mungkin esok pemaknaan-pemaknaan tersebut akan berubah seiring dengan perubahan jaman. Yang perlu diingat di sini adalah jangan pandang sebelah mata atau meremehkan satu kalimat atau bahkan satu katapun dalam pemberitaan media. “satu kata dapat merubah dunia”. Karena pada dasarnya suatu kata tidak pernah lepas dari apa yang dikatakan suatu NILAI. Contoh kenyataan adalah ; “Sepuluh Punk patah tulang dpukuli polisi di suatu acara komunitas karena lirik lagunya dianggap mendiskriminasikan polisi”. Lalu diberitakan pada salah satu surat kabar dengan headline yang menulis “ Gerombolan anak Punk terluka dibantai polisi karena membangkang!!” akan berbeda persprektif jika di headline-nya dikatakan “Puluhan Punk terluka oleh polisi karena salah paham!” dari dua headline di atas sudah jelas sekali terlihat pemilihan-pemilihan kata yang digunakan menghasilkan opini atau nilai-nilai yang berbeda di masyarakat. Kata “geromblan” mempunyai nilai minus atau negatif di masyarakat kita. Kenapa tidak digunakan kata “sekelompok” atau “rombongan”? karena stigma masyarakat terhadap Punk adalah buruk. Punk dianggap sebagai perilaku yang menyimpang dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat dominan. Kata “sekelompok” lebih sering digunakan sebagai subyek untuk memaknai sesuatu yang sifatnya masih kontroversi, misal ; sekelompok pemuda dll. Dan kata “rombongan” digunakan sebagai pemaknaan yang disepakati atau mempunyai arti positif di masyarakat. Misal ; rombongan haji dll.

Bersambung….

UPDATE ; ini adalah lanjutannya dari Jurnalisme Prasangka Buruk bagian 2

 

ilustrasi gambar dari moillusions.com