Salah satu kenakalan remaja saya yang tidak bisa ditolerir adalah mencuri. Mencuri bukan seperti pada umumnya sih. Saya pernah mencuri buah-buahan bersama teman saya. Sekitar 6-7 orang kami beroperasi. Jika musim rambutan tiba, saya berkumpul di rumah teman untuk melakukan sebuah operasi mencuri buah rambutan. Kami mencuri bukan di kampung sendiri, kampung saya tak mempunyai pohon rambutan, ada satu pohon itupun di sebelah rumah saya.

Jadi kami naik motor boncengan. Ada 3 motor, kadang 4 motor. Kami berangkat sekitar jam 1 malam. Kami menuju tempat dimana pohon rambutan itu banyak di tumbuhi. Sekitar dua puluh kilo meter dari kampung kami. Dengan percaya diri kami menuju tempat itu. Jika sudah sampai, kami berbagi tugas serta strategi masing-masing. Sebagian ada yang menjaga motor, dan sebagian lagi menjadi eksekutor (manjat dan metik rambutan).

Tak main-main kami kalau mengambil. Dari rumah sudah membawa karung kosong untuk membawa hasil operasi. Yang menjadi eksekutor ialah yang dibonceng. Kadang saya menjadi eksekutor, pun sesekali menjaga motor. Saya lebih senang menjadi penjaga motor. Resikonya tak terlalu berat jika si pemilik pohon mengetahui atau warga sekitar tahu. Tinggal memberi kode, dan langsung cus. Tapi kami partner yang setia. Biasanya saya berpartner dengan Demit (sebut saja begitu, bukan nama sebenarnya). Ia lihai sekali dalam mencuri rambutan. Tahu pohon mana yang buahnya banyak, dan tempatnya enak untuk diambil. Lain hal dengan Plencing, ia seorang kordinator bagi kami, dia yang ngajak kapan waktu yang tepat untuk memulai aksi. Sedangkan saya, team hore yang selalu siap untuk diajak beraksi.

Saya kalau sudah berpartner dengan Demit, biasanya saya yang menyetir motor dan menunggu hasil sambil melihat situasi sekitar, apakah aman atau tidak. Kami kalau beraksi, tak jauh-jauh dengan teman yang lainnya. Sebagai ilustrasi, saya dan demit di pohon pertama, sedangkan yang lainnya berjarak beberapa meter dari kami. Manjat pohon bareng, dan turun harus bareng, biar aman semua. Begitulah cara kami untuk menjaga keamanan serta kelancaran operasi.

Operasi itu tak membutuhkan lama. Tak ada satu jam, karung yang kami bawa sudah penuh. Lantas kami pulang dengan naik motor pelan-pelan sambil membicarakan waktu operasi yang barusan kami jalankan serta merayakan keberhasilan.

Pernah suatu kali ketika teman masih ada di pohon. Ada warga yang kebetulan lewat. Kaburlah kita, menyelamatkan masing-masing. Tentunya dengan motor, ada yang ngegas motor arah utara, ada yang ke selatan. Kalang kabut kita dibuat warga. Jika seperti itu, strategi sudah kacau dan tak berpikir panjang, kekompakan porak poranda. Untungnya, kami tak tertangkap oleh warga sekitar. Selang beberapa menit, kami mengrim pesan pendek kepada teman yang lain, yang berpisah ketika kabur. Dan memutuskan untuk pulang. Hari yang kurang beruntung!

Kami pulang ketawa-tawa. Melihat tingkah ketakutan dikejar orang. Belum juga penuh karung, sudah balik.

Seminggu mungkin kami lakukan sebanyak 2 kali sepanjang musim rambutan. Kejadian itu belum lama sih, belum ada sepuluh tahun, tujuh tahun yang lalu kalau tidak salah. Kami tak mengambil buah rambutan saja, jika di sekitar ada jeruk bali, kami mengambilnya juga. Buat tambahan, pikir kita. Buah-buah hasil operasi itu tak kami jual. Kami mengambil bukan karena untuk jajan, atau kebutuhan yang mendesak. Buah tersebut kita bagi rata dan dibawa pulang ke rumah masing-masing. Kadang saya hanya membawa sedikit saja, sering ditanya Ibu soalnya.

Kejahatan entah kenakalan hal yang saya lakukan. Tapi kami melakukannya dengan senang hati. Tak merasa berdosa dan tak menyesal waktu itu. Walau pernah ketahuan, tapi kami terus mengulangi  lagi. Malah ada, teman saya yang beraksi di siang bolong, ketahuan warga dikejar dan ditimpukin batu, tapi tidak kena. Orangnya masih hidup sampai sekarang. Hehe

Kenakalan remaja sudah kelewatan mungkin waktu itu. Tapi namanya anak belasan tahun, apa yang ia pengen harus didapat dengan segala cara. Semoga teman-teman saya yang membaca tulisan ini, diantaranya Demit, Kebo, Kampret, Plencing, Bajel, dan lainnya. Kelak jangan ajari anak-anakmu mencuri seperti apa yang bapakmu lakukan. Mending beli saja, aman dan praktis kalo pengen rambutan atau buah lainnya.

Buat anak-anak sekolah, terutama SMP dan SMA, janganlah kau nakal yang berlebihan. Karena nakal harus cerdas dan berpikir ulang jika akan melakukan sesuatu. Jangan main pukul, curi atau tindakan kriminal lainnya. Pikir ulang, bagaimana nanti ke belakangnya dan apakah baik atau tidak. Jika buruk bagi masa depan, tinggalkanlah. Boleh kok nakal, tapi harus ada batas-batasnya.

Tiba-tiba saya sok bijak seperti ini sih? Entahlah, mungkin karena bulan suci ramadan kali ya. Kesimpulannya sih simpel, jangan mencuri apapun yang bukan milik kita, karena kita gak punya hak untuk itu. Apalagi mencuri anak gadis di kampungmu, jangan, jangan karena mencuri itu dilarang guru agama dan tidak baik. Subhanallah.

ilustrasi gambar dari sini

SHARE
Previous articleJagoan Judi Kampung
Next articleLapangan Bola Kami

Writer | Blogger| Freelancer | Work at Setara Network