Semalam saya sedang chatting dan ngebahas tentang makanan. Alhasil, jika membicarakan masalah yang satu ini, saya kok jadinya rindu dengan kampung halaman. Banyak sekali makanan-makanan masa kecil saya di kampung susah sekali dan bahkan tidak saya temui di tempat tinggal yang sekarang (Jakarta). Kadangkala yang mebuat kangen dengan kampung halaman adalah masakan-masakan rumahan a la ibu saya. Sebenarnya untuk masakan sendiri saya kadang masih bisa mencicipi di kota tempat dimana saya tinggal sekarang. Akan tetapi dalam hal cita rasa akan jauh berbeda dengan buatan ibu.

Berbicara soal makanan, dulu ketika masih cilik sekitar kelas 1 & 2 Sekolah Dasar penganan saya hampir setiap pagi adalah kerupuk. Menu makan saya setiap hari itu adalah kerupuk mBandung dan nasi liwet yang masih anget. Sudah itu saja. dua jenis itu saja membuat saya senang sekali.

Entah asal-usul nama kerupuk itu darimana. Yang jelas, di kampung kami, semua menyebutnya seperti itu. Apakah produksi kerupuknya itu dari kota Bandung, atau pertamakali ada di Bandung atau yang menemukan orang Bandung atau apalah. Saya tidak terlalu mempermasalahkannya.

Pada saat itu, ibu saya membuka warung kelontong. Maka untuk kerupuk sendiri saya langsung mengambilnya dari kotak kerupuk di warung.

Sudah menjadi kebiasaan saya setiap sarapan itu hanya dengan kerupuk. Waktu itu, ekonomi di keluarga saya sangat kekurangan sekali. Dan kedua kakak saya juga masih bersekolah. Saya dengan kakak saya terpaut usia 5 dan 7 tahun. Maka dari itu, kehidupan keluarga kami sangat serba kekurangan. Ibu saya selain membuka warung kelontong, ia juga membeli hasil bumi. Namun untuk modalnya ia meminjam atau dikasih pinjam dari juragan besar dari tetangga kampung. Ibu hanya sebagai pengepul saja, dan dapat untung dari setiap kilogram yang ia kumpulkan. Misalnya ibu membeli padi basah dari petani, setiap kilo-nya seharga Rp 3.000. Kemudian ia menjualnya ke pemodal atau juragan Rp 3.050 atau 3.100 saja. Ia untung dari situ.

Jika keadaan keuangan kami sedang agak membaik, maka ibu saya tak langsung menjualnya ke juragan. Namun ia memilih untuk mengeringkan padi hasil pembeliannya. Jika seperti itu, ibu menjualnya seharga 3.500. Namun dalam hal pengeringan padi ini, memerlukan banyak tenaga. Biasanya dalam hal ini, bapak yang kebagian tugas mengeringkan padi. Kadang kalau banyak, ibu saya mencari satu tambahan orang lagi untuk membantu bapak.

Orang kampung untuk masalah makanan, sangat sederhana. Begitupun di keluarga kami. Keluarga saya sangat jarang makan di luar (restoran, warung) atau lainnya. Alasan utamanya ialah ngirit dan keuangan sedang cekak.

Berbeda dengan musim panen tiba. Entah panen padi, kacang tanah, kedelai atau lainnya. Bapak dan ibu kadang mengajak kami pergi ke pasar untuk makan yang enak-enak. Misalnya seperti sate gule, soto, mie ayam, bakso dan atau ayam goreng. Makanan seperti yang saya sebut barusan adalah suatu kemewahan bagi keluarga kami dan mungkin juga bagi keluarga-keluarga di kampung saya yang ekonominya setara dengan keluarga saya.

Boro-boro ibu saya membelikan baju baru atau mainan. Untuk pakaian saja, ibu membelikan kepada anak-anaknya hanya setahun sekali pada saat lebaran. Dan itupun kami merengeknya sudah dari hari pertama bulan puasa tiba. Saat ini saya paham kenapa kok ibu menerapkan kepada kami (anak-anaknya) seperti itu. Karena alasan kuatnya adalah faktor ekonomi.

***

Kerupuk mBandung atau apalah disebutnya, saya dulu sangat menyukainya. Ia bukan hanya hidangan tambahan saja. Namun ia menjadi menu utama dalam makanan keseharian saya. Jika sudah seperti ini, saya kok merasa sentimentil sekali. Kenangan-kenangan di kampung dan masa kecil rasanya ingin saya ulangi dan kiranya saya ingin di masa itu terus. Walaupun keadaan ekonomi tak lebih baik dari sekarang, namun di kala itu saya sangat suka menjalaninya. Rasa-rasanya saya tak ingin tumbuh menjadi dewasa.