Lebaran di setiap daerah mempunyai budaya masing-masing. Tapi hal itu tak jauh berbeda. Ia hampir sama. Di kampung saya sendiri lebaran sangat mengasikkan. Para perantau dari berbagai kota berdatangan. Suasana kampung yang tadinya “mati” menjadi hidup kembali. Di jalanan, gang-gang ramai orang.

Anak kecil, muda, tua dan keluarga kecil hingga besar menyambangi tetangga kanan-kiri-depan-belakang.

Lebaran bagi saya sendiri adalah suatu kegiatan yang menngeluarkan banyak emosi. Setahun bahkan lebih tidak bertemu dengan sanak keluarga, teman sekolah, sepermainan dan sebagainya.

Lebaran membuat kita seakan disuruh menguras ingatan-ingatan masa kecil. Kenangan manis, pahit, lucu, konyol, malu-maluin kita hadirkan kembali. Jika sudah seperti itu, kita seperti merasa tua.

Tak terasa, bertahun-tahun kita sibuk dengan berbagai urusan masing-masing. Lantas kita diketemukan pada satu moment, lebaran.

Makna lebaran di dalam agama Islam sendiri ialah, kembali ke fitri, suci. Setelah satu tahun penuh kita berbuat salah (dosa). Lalu kita saling memaafkan satu sama lain. Kita memulai dari nol. Seperti kita baru lahir, bayi tanpa dosa. (Jika saya salah bisa dikoreksi)

Lebaran sudah menjadi budaya. Ia menjadi sejarah umat manusia. Tak hanya mencakup untuk agama islam saja. Lebaran sudah menjadi milik berbagai agama. Ia menyatu bersama umat kristiani, hindu dan umat agama lainnya bahkan yang tak memiliki agama, atheist sekalipun.

Di Indonesia sendiri, lebaran adalah mayoritas dimana libur panjang bagi seorang pekerja. Dalam setahun sekali, seorang pekerja mendapat libur yang lebih daripada hari libur besar biasanya.

Di kampung, lebaran tak melulu soal maaf-maafan. Di balik itu semua, ia mempunyai arti ajang pamer. Pamer dari segala hal. Adalah para perantau yang datang ke “kandang” lalu saling bawa hasilnya masing-masing.

Mereka membawa mobil/ motor cicilannya untuk dibawa pulang ke kampung. Membangun rumah megah, dan lain sebagainya. Tolok ukur kesuksesan dilihat dari moment lebaran. Banyak pula yang membawa pasangannya untuk dibawa ke orangtua. Ia seakan ngasih tahu seisi kampung “ini loh calon suami/istri saya” lantas, ia senyum-senyum penuh kebanggaan.

Ajang pamer tak melulu soal kekayaan. Banyak sekali ketika lebaran tiba, pamer-pameran itu muncul. Sebenarnya kalau dipikir-pikir sih ada baiknya juga. Kelakuan seperti ini memacu teman atau lawan untuk menuju sukses. Motivasi tersembunyi dan saingan tak tertulis namun sudah menjadi budaya. Itu berlaku di kampung saya, hingga sekarang.

Jika saya sendiri, saya adalah orang yang tak merasa saingan dengan teman-teman sekampung saya. Misal, saya mendapat kabar dari orangtua kalau si A, mau nikah atau si B udah beli sapi 3, dan atau si C udah beli mobil atau rumah. Saya hanya bisa bilang “ooo” saja.

Kemudian dalam hati saya, saya tak merasa dikalahkan. Dan saya gak ikut dalam “perlombaan” macam itu. Saya yakin dengan jalan saya sendiri, sukses atau tidak itu tak melulu dalam hal harta melimpah.

Saya menjalani apa yang ada, mengalir saja. Tak terlalu ngoyo sekaligus juga tak malas-malasan.

Saya percaya bahwa nasib itu yang menentukan diri kita sendiri. Bukan motivator yang sering muncul di televisi saban hari itu. Karena omongan dan nasihatnya tak selalu benar. Realitas dan omongan sangat berbeda.

Lebaran atau apapun itu namanya. Adalah hajatan yang indah bagi semua yang merayakan. Mungkin ada beberapa yang sedih ketika lebaran tiba. Sebabnya ialah mengingat keluarga yang telah tiada. Atau sedang tidak ada uang dan sebab-sebab lain.

Lebaran adalah tentang maaf-maafan sekaligus ajang pamer kesuksesan. Dan lebaran juga lebih mirip kepada reuni. Semoga kalian bisa terhindar dari ajang ini yang semakin norak bin udik.


Catatan : ilustrasi gambar dari Shutterstock.com