Berbicara tentang bulan Ramadhan, pasti kebanyakan mengenai ibadah puasa,sholat tarawih, buka bersama dan lainnya. Bulan Ramadhan tahun ini rasanya datangnya lebih cepat dari biasa-biasanya. Moment Puasa itu syahdu bagi saya ketika masih kecil. Di dalam keluarga saya, jika Ramadhan tiba maka kesibukan di dapur adalah kegiatan yang paling sibuk. Ibu saya, sedari siang sudah menyiapkan menu buka untuk saya, kedua kakak saya, Bapak dan Ibu saya sendiri. Pun juga untuk makan sahur, sedari jam dua pagi Ibu saya sudah bangun dan sibuk di dapur. Sedangkan saya, menjelang imsak baru bangun.

Ibu sangat mengerti sekali menu-menu apa aja yang akan ia hidangkan ke pada kami. Sayur ayam, tempe, telur dan macam-macam lauk, kadang membeli ayam bakar dan berbagai buah-buahan yang membuat bulan ramadhan menjadi berwarna. Ramadhan bagi kami, sebuah anugrah yang tak hanya mendapat berkalilipat pahala, tapi untuk wisata lidah sendiri pun demikian. Moment seperti itu saya alami sepuluh atau lima belas tahun silam. Ketika keluarga masih kumpul semua. Sebelum kakak pertama menikah, serta menyusul yang kedua.

Ketika saya masih SD, setelah sholat tarawih anak seusia saya tidak langsung pulang ke rumah masing-masing. Tapi, kita melakukan tadarus (membaca Al Quran) hampir semalam suntuk di masjid hingga menjelang Idul Fitri. Kalo saya, hanya penggembira saja. Saya hanya menemani teman-teman dan tim hore saja. Saya kalo baca Quran kurang lancar dan fasih. ketika tadarus kita juga menunggu takjil, orang sekitar masjid hampir setiap malam memberikan takjil kepada kami. Jika sudah seperti itu, saya semakin betah di masjid. Takjilnya macam-macam biasanya sih, yang ngasih takjil itu dari keluarga yang agak berada di kampung kami. Tapi akhir-akhir ini, semua golongan hadir dalam hal sedekah takjil. Tak hanya dari orang kaya saja.

Sebagai perantau, banyak yang menunggu moment ini, moment dimana lebaran tiba. Sebagaimana kita tahu, bahwa Indonesia yang budayanya setiap ramadhan setelah itu lebaran pada berbondong-bondong untuk pulang kampung atau bekennya disebut dengan mudik. Saya sendiri juga menantikan Lebaran datang, dan pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarga, keluarga kecil maupun keluarga besar. Moment seperti itu yang dinantikan mayoritas perantau. Kesempatan itu juga dimanfaatkan untuk reoni, liburan bahkan banyak pula untuk pernikahan (bukan hari H lebarannya, tapi setelah lebaran beberapa hari).

Lebaran di kampung saya (Ngawi) itu sangat meriah sekali, dari malam takbir sampai lebaran datang sangat ramai sekali, di jalan-jalan banyak berlalu-lalang dari anak kecil yang bermain petasan, atau banyak yang berkumpul di pinggir-pinggir jalan sekadar ngopi atau main play station sampai pemuda-pemudinya asik berpacaran dan jika hari lebaran tiba, maka halal bihalal ke tetangga sekitar menjadi syarat wajib bagi kita. Ada juga lebaran menjadi ajang nggaya para perantau, memamerkan hasil kerja kerasnya selama di perantauan.

Sekian dulu tulisan saya tentang ramadhan, bila ada waktu lagi nanti saya sambung. Oh iya, saay mohon maaf jika di blog ini ada perkataan yang kurang mengenakkan, saya atas nama pribadi mohon maaf. Marhaban ya ramadhan. Semoga amal puasa kita tahun ini diberkahi oleh Tuhan dan dilancarkan ibadah kita. Sekali lagi, Marhaban ya ramadhan buat semuanya. 🙂

nb : ilustrasi gambar dari smeaker.com

SHARE
Previous articleSholat Jumat dan Mengaji
Next articleSholat Tarawih #1

Writer | Blogger| Freelancer | Work at Setara Network