ROBIT.ID – Saya ingat beberapa bulan lalu mengenai pernikahan. Kamu bertanya untuk meyakinkan bahwa saya adalah laki-laki yang tepat bagimu. Dan kamu juga bertanya mengapa harus dia yang saya pilih menjadi istri.

Pertanyaan itu ia ungkapkan di Taman Ayodya pada malam hari. Saya menjawab dan memberikan penjelasan kepadanya. Malam itu cuaca dan lingkungan taman sangat mendukung. Meskipun di depan kami tidak ada lilin-lilin yang menyala dan hiasan berbentuk hati. Namun Taman Ayodya bagi saya sangat tepat untuk melewati malam itu berdua.

Sorot lampu yang redup memperlihatkan wajahmu yang asri, dan suara-suara pengamen serta pengunjung lain yang riuh rendah membuat saya terus meyakinkan jawaban untukmu.

Mungkin saya tidak bisa romantis dengan memberikan setangkai mawar merah serta membacakan puisi-puisi romantis yang menggetarkan hati. Karena saya memiliki cara sendiri agar bisa dikatakan romantis. Atau jangan-jangan saya malah bukan pria romantis. Entahlah.

Detik demi detik berlalu, dan saya masih meyakinkan kepadanya serta terus memandang gadis berhijab dengan tingginya mengalahkan saya. Semua saya utarakan, baik dari hal sederhana sampai bagaimana nanti setelah menikah. Saya rangkai dan saya ungkapkan kepadanya.

Terpaan angin malam di Taman Ayodya masuk dalam tubuh dan memberikan semangat untuk melancarkan rangkaian kalimat. Saya adalah laki-laki yang tepat bagimu. Meskipun penampilan saya seperti berandalan, tapi saya tidak sejelek apa yang kamu pikirkan. Menihkahlah denganku, dan kita lewati hari bersama.

Ia terdiam.

Saya terus memegang tangan mulusnya serta menunggu jawaban darinya.

Dan jawabannya waktu itu membuat saya bahagia. Mungkin itu adalah momen di mana salah satu bagian dari hidup saya yang tak terlupakan. Dengan senyumnya yang khas, ia mengiasyaratkan bahwa ia bersedia melewati hari ke depan bersamaku.

Namun perjalanan cinta kami tidak semulus jalan tol. Kerikil-kerikil ada saja yang ditemui. Apalagi saat mempersiapkan pernikahan. Hal kecil dan sederhana saja bisa menjadi kami berantem. Ahhh.. Mungkin memang harus dengan berantem sebentar, agar tali hubungan kami semakin kuat.

Mempersiapkan pernikahan memakan waktu yang panjang. Saya adalah laki-laki jawa tulen, sedangkan pasanganku lahir di tanah sunda. Tentu keduanya memiliki budaya dan adat yang berbeda mengenai pernikahan.

Karena pernikahan akan kami langsungkan di tempat perempuan, sunda. Maka saya harus mengikuti adat sunda dengan segala perintilannya. Saya jadi belajar banyak mengenai adat pernikahan sunda. Baik dari seserahan, dan lainnya.

Semuanya hampir kami persiapkan. Dari memesan cincin pernikahan di Blok M. Yang sebelumnya kami sudah memutari mal seputar Jakarta Selatan. Membeli seserahan kami cicil dari sedikit demi sedikit. Guna tidak pusing dan memakan waktu. Kami benar-benar mandiri dengan pernikahan kami. Dari undangan, konsep, dan lainnya.

Begitupula saat mengurus surat pernikahan. Kesana-kesini, saya lakukan sendiri. Dari mulai sekup terkecil Pak RT sampai pada instansi Kantor Urusan Agama (KUA). Proses administrasi yang dilempar sana-sini telah saya terima. Tapi saya tetap menjalani sendiri tanpa perantara orang lain. Selain menghemat, saya juga belajar bagaimana mengurus pernikahan itu seperti apa.

Beruntungnya bagi saya sebagai freelancer, membuat waktu saya agak lebih dibanding karyawan perusahaan. Jadi saya bisa datang ke semua instansi tanpa perlu izin ke atasan.

Untuk mengurus pernikahan ini kami setidaknya menghabiskan waktu lebih dari dua bulan. Dan yang membuat kendala kami adalah biaya dengan segala perintilannya.

Kini, semuanya sudah siap. Tinggal besok pagi, saya akan berucap di depan penghulu serta keluarga, teman, dan lainnya untuk mengucap janji suci dan menikahi perempuan berhijab dengan tinggi melebihi saya.

Janji suci. Ya, setelah mengucap itu. Saya dan kamu akan terikat menjadi satu. Pernikahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here