Mungkin teman-teman sudah tahu, bahwa di pertengahan bulan Maret kemarin saya melangsungkan pernikahan. Nah kali ini saya akan bercerita sedikit mengenai menjadi seorang suami yang baru sebulan. Jika kamu berharap ingin membaca cerita tentang hubungan kami yang romantis, maka lebih baik tinggalkan blog ini, ya. Karena cerita kehidupan kami jauh dari kata “romantis”.

Setelah sebulan menikah, jadi saya ingin bercerita mengenai keseharaian dan berubahnya dari bujangan menjadi seorang suami. Sebenarnya ini sangat biasa saja dan mungkin juga telah dijalani oleh mereka yang sudah membina rumah tangga.

Pernikahan kami tak menggelar pesta besar-besaran, alasannya karena saya datang dari keluarga yang serba pas-pasan. Selain itu, kami lebih memilih uang tersebut untuk modal setelah nikah, misalnya untuk uang muka membeli rumah dan lain sebagainya.

Hari-hari saya jalani berbeda ketika saat saya sendirian. Ketika bangun tidur, di samping telah ada sosok perempuan. Ya, siapa lagi kalau bukan istri. Biasanya setelah bangun tidur, saya tidak pernah sarapan, boro-boro sarapan, bangun saja kesiangan dan buru-buru untuk menjalani aktivitas. Kini dalam cerahnya pagi, hidangan sarapan telah siap untuk disantap.

Sarapannya tentu sederhana, seperti dua lembar roti panggang, nasi goreng atau lainnya. Hidangan-hidangan sederhana itu membuat hubungan kami semakin erat. Mungkin beberapa bulan ke depan berat badan saya akan bertambah. Selain itu karena makannya juga teratur. Dulu makan dalam sehari kadang hanya sekali, kini saya seperti orang lain, minimal tiga kali.

Itu hanya dalam sisi konsumsi. Berbeda dengan tugas dan peran. Dalam seminggu bisa dua sampai tiga kali, saya bisa mengantar istri untuk berbelanja sayuran di pasar tradisional. Kebetulan kami menyewa rumah di daerah Permata Hijau, Jakarta Selatan, jadi untuk akses ke pasar sangat strategis. Kira-kira sekitar jam 8 malam, saya mengantar istri untuk berbelanja sayur. Saya sangat menikmati saat melihat istri tawar menawar dengan penjual sayur. Biasanya kami ke pasar Pal Merah atau Kebayoran Lama. Kedua pasar ini menjadi tempat yang sering kami kunjungi.

Selain itu kami juga ke pasar modern atau pusat perbelanjaan. Biasanya ini kami lakukan sebulan dua kali. Untuk hal ini, kami harus mengeluarkan uang ekstra. Karena kebutuhan rumah tangga dalam sebulan ke depan harus kami siapkan. Ya, bisa dibilang belanja bulanan.

Saya mulai belajar untuk menjadi suami yang terbaik versi kami. Tak ada romantisme seperti pasangan lain. Saya mulai sekarang tidak lagi egois untuk memikirkan diri sendiri, karena saya memimpin rumah tangga. Berat memang, tapi itulah konsekuensi menjadi suami.

Tapi jika saya menunda untuk menikah dan menunggu beberapa tahun lagi, maka tak akan siap. Karena dari semua itu adalah mengenai kesiapan mental. Artinya dengan berani menikah saya siap menerima risiko yang ada dan siap melangkah bersama pasangan.

Semoga dengan langkah yang kami ambil akan memberikan berkah kepada keluarga kecil ini, teman serta sahabat. Impian kami tak muluk-muluk. Kami bisa menjalani biduk rumah tangga dengan segala keadaannya bersama. Apapun keadaannya.

Oh ya, bagi yang sedang bimbang ingin menikah tapi masih ragu dengan ini-itu, segeralah menikah. Masalah rezeki dan perintilan lainnya akan mengikuti kok, yang terpenting kita sudah berusaha dan mengenai hasil, pasti akan mengikuti.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here