ROBIT.ID – Sore hari sekitar jam 3 saya berangkat menuju ke Taman Fatahillah atau orang lebih sering menyebutnya Kota Tua, Jakarta. Sebelumnya saya sudah janjian dengan si dia, kalau sudah di lokasi, saya akan langsung menyusul.

Tak ada tiga puluh menit, saya sudah tiba di Kota Tua, dan agak susah mencari tempat parkir. Karena waktu itu adalah libur panjang, sedang memperingati tahun baru cina. Maka di sekitar Kota Tua sangat padat. Apalagi deket Glodok juga kan, jadi saya perlu ekstra tenaga untuk mencari parkir motor.

Setelah beberapa menit menemukan tempat parkir. Saya langsung menuju tempat di mana dia sudah menunggu, yakni di warung Umak. Sebuah resto dengan konsep jadul. Sekitar sepuluh menitan akhirnya saya menemukan restoran tersebut. Kemudian saya tidak menikmati minuman atau makanan di warung Umak, karena saya langsung mengajak melihat atau menikmati Kota Tua.

Setelah berfoto ria dan si dia menyewa sepeda dan mengitari Taman Fatahillah, kami beristirahat sejenak. Karena terik matahari masih menyengat. Sekitar lima belas menit beristirahat, kami melanjutkan untuk naik delman.

“berapa bang?” tanya si dia
“tergantung, ada dua pilihan,” jelas abang kusir
“60 ribu untuk memutari taman fatahillah, melewati toko merah. Dan 100 ribu memutari taman Fatahillah penuh.” lanjut abang kusir
“Hmmm… 50 ribu, ya bang.” tawar si dia
“Ayo, berangkat.” jawab abang kusir dengan wajah gembira.

Karena kami berenam, maka saya disuruh abang kusir untuk duduk tepat di sebelahnya. Sekitar sepuluh menit naik delman, hal yang tak terduga menyergap saya.

Saat itu saya sedang mainan handphone dan juga mencoba mengabadikan momen tersebut dengan membuat foto dan video. Posisi delman ada di sebelah kanan jalan. Nah, tiba-tiba dalam waktu sekejap handphone yang sedang saya pegang diambil oleh pengendara motor dari kiri.

“BNGZT!!!!” teriak saya

Sontak saya kaget dan langsung loncat serta berusaha mengejarnya. Namun memang saya teledor dan sedang apes. Handphone saya lenyap digondol pemotor yang berboncengan itu. Yang tertinggal hanya sarung handphone.

Hikmahnya apa?
Jadi, saya semakin sadar ketika ingin bermain handphone harus melihat situasi dan kondisi. Karena musibah itu kita tidak tahu kapan menghampiri. Saya teringat ungkapan Bang Napi di RCTI yang terkenal itu. Dan saya benar-benar merasakan.

“Kejahatan terjadi bukan hanya karena niat pelaku tetapi juga karena adanya kesempatan”

Dari itu semua, saya mengikhlaskan handphone yang baru saya beli itu. Satu lagi, belum lunas euy. Hehehe.

Semoga dengan kejadian ini teman-teman bisa belajar agar terhindar kejadian seperti yang saya alami. Oh ya foto-foto yang saya ambil di Kota Tua juga ikut lenyap bersama handphone. Hvft

Foto di akun Google saya, diabadikan dengan handphone pada 14 Februari 2018
Foto di akun Google saya, diabadikan dengan handphone pada 14 Februari 2018 di K-Link Tower Indonesia

***
Setelah saya tracking lokasi terakhir keberadaan handphone, lokasi terakhir tetap di Kota Tua. Yang saya sesalkan adalah, banyaknya data-data yang melekat di handphone tersebut. Hampir semuanya saya simpan di situ. Sekarang yang masih bisa saya akses adalah foto-foto hanya dari kamera foto tersebut, sehari sebelum handphone saya hilang.