Perkembangan zaman semakin maju di dunia ini, pun juga di Indonesia. Anak-anak umur puluhan tahun bahkan balita sekarang mainannya tak lagi mainan tradisional. Saat ini, anak-anak kecil kebanyakan bermain dengan gawai-gawainya (gadget) yang dibelikan orang tua mereka.

Ia tak lagi bermain kotor-kotoran lagi. Misal kalau di kampung tak main di kali, ngangon (gembala) kambing, bermain kelereng, petak umpet dan permainan-permainan masa kecil lainnya. Permainan itu bisa dibilang sudah langka adanya. Tak hanya di kota, di kampung-pun demikian.

Sudah lama saya tak melihat permainan tradisional yang saya sebutkan di atas setiap saya pulang di kampung saya Ngawi. Permainan macam itu sudah dianggap kuno, gak modern dan bikin capek saja. Mending di rumah, mainan gawai hingga mata merah (karena saking lamanya ia ngegame).

Tulisan ini hanyalah ingin membangkitkan masa-masa indah kecil saya. Saya akan menulis beberapa permainan kampung yang pernah saya alami dulu, dan mungkin kalian anak 70, 80, 90 atau 2000an awal pasti pernah melakukannya.

Daftar yang saya buat mungkin berbeda nama atau aturan di wilayah Anda, namun kurang lebihnya sama sih.

 

Berikut ini adalah permainan-permainan masa kecil saya yang saya ingat hingga hari ini.

 

1. Main di kali.

Anak-anak main di kali
Anak-anak main di kali

Kali, bagi kami anak kampung sudah tak asing lagi. Kami (biasanya anak cowok) hampir setiap hari kami mandi di kali. Untuk kalinya tidak kali yang kecil macam got, namun kalinya agak besar dan tentunya tingkat kedalamannya bervariasi. Bagi saya sendiri, main di kali mempunyai keasikan tersendiri. Dulu waktu SD pulang jam 12, dan sekitar jam 2 siang saya dan teman-teman berangkat menuju ke kali. Kami main hingga sore. Belum ingin pulang jika belum bosan atau salah satu orang tua dari kami nyari dan kami semua dimarahi oleh orang tua dari kami. Untuk orang tua saya sendiri, tak begitu melarang main di kali. Berbeda dengan orang tua teman-teman saya yang kadang ketika menyusul di kali ia membawa kayu untuk menggebuki anaknya. Ya, ini sangat saya sukai.

 

2. Petak Umpet

Permainan Petak umpet
Permainan Petak umpet

Yap, Petak umpet! di Ngawi disebut dengan pong-pongan. Petak umpet adalah permainan tradisional sejuta umat, eh ratusan juta umat. Siapa yang tak pernah bermain dengan permainan ini. Petak umpet di Ngawi, kampung saya menyebutnya “pong-pongan”. Cara bermainnya adalah kita membuat lingkaran. Setelah itu kita melempar gacuk (apa ya bahasa indonesianya gacuk, Ada yang tahu? Haha) kita ke dalam lingkaran tersebut. Jika diantara gacuknya paling jauh dari lingkaran tersebut, maka ia akan jadi atau yang jaga. Untuk sembunyinya juga ada peraturannya. Ada batas-batasnya, jadi gak sembarangan main sembunyi di tempat jauh. Untuk yang jaga juga harus “berani” mencari teman-temannya yang sembunyi. Maksud berani di sini adalah, jika mencari tidak di sekitar lingkarannya saja.

Jadi gini jika belum ngarti saya kasih contoh sedikit. Sebelum sembunyi semua, terkecuali yang jaga. Dalam lingkaran tersebut kita susun (tumpuk) gacuk para pemain. Ketika anda “jadi yang jaga” maka, jika anda kelolosan sedikit aja tidak melihat lingkaran, maka akan diruntuhin tumpukan gacuk tersebut oleh lawan (yang sembunyi). Dan itu akan diulang lagi. Walaupun anda sudah menemukan beberapa lawan di persembunyiannya. Masih belum mudeng? Ya pokoknya gitulah intinya.

Jika hal itu berulang terus-menerus maka permainan tak akan usai. Malah dulu ada teman saya yang menangis karena selalu diruntuhin tumpukkan gacuknya dan otomatis dia jaga terus. Hahaha.

 

3. Main Kelereng

Main kelereng
Permainan Tradisional – Main kelereng

Bagi kaum laki-laki di umur belasan, pokoknya di sekolah dasar bermain kelereng adalah bisa dikatakan wajib. Main kelereng adalah suatu kesenangan tersendiri jika sedang bosen dengan kali ataupun petak umpet. Ia menjadi permainan yang asik untuk menghabiskan waktu. Biasanya permainan ini digelar ketika libur sekolah tiba. Bisa kenaikan sekolah, ataupun catur wulan (dulu belum ada semester) atau juga ketika bulan puasa. Jadi, jika sudah bermain kelereng, saya / kami sering lupa waktu. Kami bermain dari pagi, hingga sore. Sorenya sekitar jam 4an kami main bola. Begitulah rutinitas saya dan teman-teman saya di kampung untuk menghabiskan masa liburan.

Saya, dan mungkin teman-teman kampung saya tak berpikir mau liburan kemana. Pantai, tempat wisat dan lainnya. Mayoritas orang kampung, selain jarang jalan-jalan juga perekonomiannya sangat kurang.

 

4. Tamiya & Beyblade

Gangsing tradisional
Gangsing tradisional

Sekali lagi, bagi kami yang cowo main tamiya adalah salah satu kegiatan kami ketika libur. Biasanya sih hanya di hari minggu saja. Tamiya dan bayblade adalah permainan yang “agak kota” sih menurut saya. Sebelum boomingnya bayblade kami membuat gangsing sendiri, DIY bro, dari tanah liat atau juga dari kayu. itu sudah membuat kita senang.

 

5. Umbul / gambaran

Gambaran umbul
Gambaran (umbul)

Lagi-lagi saya bercerita permainan anak laki. Gambar atau umbul kita beli dari warung. Kemudian kita bermain “gamparan” apa ya nama yang ngindonesia dari permainan ini? Haha pokoknya itu deh.

 

Cukup segini aja dulu tulisan saya tentang permainan masa kecil di kampung saya, Ngawi. Sebenarnya masih ada banyak sekali permainan tradisional yang sangat menarik unuk ditulis. Bukan permainan saja sih sebenarnya, tapi lebih kepada rutinitas anak kampung seperti saya. Misalnya, main karet, nyari burung dengan ketapel, nyari sarang burung di hutan, nyari semangka, mancing di kali, ngobatin ikan di kali (motas), nyari belut, lompat tali, engklek benthik dan masih banyak lagi untuk diceritakan.

Mungkin generasi hari ini tidak tahu apa yang saya tulis di atas. Ia tahunya Thomas & Friends, game-game yang ada di gawainya. Dan juga youtube.

Sebenarnya dengan kemajuan teknologi yang semakin maju, membuat kita melupakan masa-masa indah kecil dulu. Anak-anak seakan dipaksa untuk bermain dengan gadgetnya masing-masing tanpa tahu keadaan sekitar.

Sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, permainan-permainan tradisional yang saya sebut di atas mungkin menjadi sejarah saja. Ia menjadi sejarah buat anak cucu kita. Bahwa dulu masa kecil kita sangat bahagia dan juga mengasikkan. Tak melulu di rumah untuk menghabiskan waktunya dengan gadget.

 

*Gambar dari berbagai sumber.

SHARE
Previous articleMenjiplak atau plagiat
Next article2015 yang Letih
Writer | Blogger| Freelancer | Work at Setara Network