Dalam hal tulis-menulis, mungkin ide itu muncul karena apa yang penulis rasakan, lihat dan dengar. Begitulah, simpelnya. Tapi menjadi persoalan lain jika ada beberapa yang ditulisnya bukan lahir dari apa yang ia rasakan, atau maksud saya di sini adalah menjiplak.

Dalam dunia digital seperti sekarang, tulisan berlalu lalang setiap detiknya. Selalu ada yang baru, dan selalu menarik untuk dibaca. Tentu, menarik di sini adalah kesukaan masing-masing para pembacanya. Misal saya suka dengan dunia musik, hampir setiap harinya saya membaca tulisan-tulisan tentangnya. Pun dengan Anda, jika suka politik, sejarah, dan lain sebagainya, maka akan suka dengan bacaan-bacaan tersebut. Tentu, saya tak menolak jika ada tulisan tentang politik atau sejarah, saya juga membbaca, namun hanya sekadarnya saja. Tidak menutup kemungkinan bahwa, ada yang suka berbagai macam isu. Tak hanya fokus ke satu saja.

Beberapa waktu silam, entah sempitnya pikiran saya. Dan secara sadar saya menjiplak tulisan orang. Sebenarnya dalam hal jiplak-menjiplak sudah ramai dalam penulisan. Tapi, betapapun itu, saya hingga kini sangat menyesal karena telah melakukan tindakan yang ceroboh dan berakibat fatal itu.Dalam berkarya, sekalinya menjiplak. Maka, “icon” tersebut akan terbawa terus. Walaupun sudah dihapus, atau sebagian orang sudah lupa. Namun, jejak digital itu tak bisa dihapus.

Celakanya, saya melakukan ilmu itu, jiplak. Betapa rapuhnya, saya. Ada sebagian orang berkata, jiplak tidak masalah, asal tidak ketahuan, eh maksudnya tidak sepenuhnya. Simpelnya ialah, ATM; amati, tiru dan modifikasi. Bagi saya, itu tak masalah. Namun, jika menjiplak seratus persen bagaimana? Kalau itu, sudah beda hal.

Sebuah karya lahir, mungkin tidak ada seratus persen dari penulisnya. Mungkin, gaya penulisannya mengikuti penulis A, dan lain sebagainya. Di sini maksudnya adalah pengaruh. Jika kamu suka membaca karyanya Pram, sedikit banyak tulisanmu akan agak mirip. Tidak menutup kemungkinan akan berbeda.

Maka, apapun itu. Entah menulis, atau apapun dalam berkarya. Diusahakan jangan menjiplak. Sekalinya menjiplak, kamu mendapat bayang-bayang bahwa kamu berkarya itu bukan hasil dari kamu sendiri. Walaupun itu buah hasil penuh karyamu, namun setereotip atau apalah namanya, itu menghantuimu dan terus terbawa.

Percayalah, jangan jiplak. Saya, adalah contohnya. Celaka sekali. Sekali menjiplak, dan sangat menyesal. Dan itu juga membuat saya mandeg dalam berkarya. Sejelek apapun karya, lebih berharga daripada bagus tapi menjiplak. Saya tak akan melakukan perbuatan “hina” seperti itu lagi. Sekali dan membuatnya jadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya ke depannya.

Sebuah karya tak berarti apa-apa jika karya tersebut adalah hasil karya orang lain dan didaku sebagai karyanya. Sudahlah, hasil karya tak perlu bagus dan disukai banyak orang. Yang terpenting adalah berkarya dengan suka-suka dan untuk hasil dilihat belakangan. Pokoknya berkarya terlebih dahulu.

Apapun namanya, jiplak / plagiat dan apalah-apalah itu, pokoknya gak boleh. Sudah segitu aja, sesi jiplak-menjiplaknya. Kesimpulannya, jangan jiplak. Beban moralnya berat cuy, jika menjiplak. Ngebalikin nama baik / reputasi itu susah. Itu aja sih.

 

*sumber gambar