Dulu ketika saya kecil di bawah kelas lima kalau tidak salah ingat, saya hampir tak pernah bolong melakukan sholat tarawih. Bukan karena keinginan sendiri, itu karena di sekolah kami setiap bulan ramadhan mengeluarkan buku kegiatan ramadhan. Jadi buku kegiatan itu harus diisi dan nanti setelah masuk sekolah, sehabis lebaran buku tersebut dikumpulkan. Pengisian buku itu tak sembarang, yaitu dengan minta tandatangan imam sholat tarawih maupun sholat lainnya.

Jadi ketika sholat usai, maka para anak-anak berkerubung dekat sang imam masjid untuk minta tandatangan. Antri, dan kadang ada yang gontok-gontokan memperebutkan siapa yang lebih cepat mendapat tandatangan. Seingat saya dulu, ketika ramadan sekolah kami libur. Jadi untuk gantinya ialah, mengisi buku itu.

Kalau saya sih agak ringan masalah dengan tandatangan, lhawong bapak saya sendiri yang jadi imam sholat tarawih. Kadang saya tak ikut berkerubung diantara teman-teman saya. Saya minta tandatangan di rumah, bebas dan bisa-bisa beberapa hari dipenuhi oleh bapak saya. Saya sendiri, hingga saat ini hapal tandatangan bapak saya. Masih ingat tarikannya serta mirip sekali jika saya memalsukan.

Entahlah sekarang kegiatan penandatangan itu masih dilakukan anak sekolah dasar atau tidak. Seingat saya dulu hanya anak SD yang melakukan seperti itu.

Sholat tarawih waktu kecil dulu adalah tak melulu ingin mendapat pahala. Dorongan yang kuat untuk sholat tarawih adalah dikarenakan untuk mengisi tandatanngan. Guru agama kami di sekolah, jika tandatangannya lengkap maka akan mendapatkan nilai yang bagus.

Ramainya kerubungan untuk minta tandatangan itu hanya ketika sholat tarawih saja. Jika waktunya subuh tiba, maka sedikit, tidak lebih dari 10 anak yang minta tandatangan.

Yang saya sukai ketika usai subuhan ialah jalan-jalan dan main bola. Jadi kampung kami itu diapit oleh sawah. Depan sawah, samping kanan kiri sawah. Maka jalan-jalan itu di sepanjang jalan di sisi kiri dan kanannya sawah. Ada yang membawa petasan, dan dinyalakan untuk mengagetkan atau menakuti cewe-cewe. Begitulah kegiatan kami usai sholat subuh. Lalu, jalan-jalan selesai kami lanjutkan dengan main bola (bagi anak laki). Di sebuah tempat penjemuran gabah di kampung kami. Lapangannya beralas semen, jika kau jatuh atau salah nendang maka darah adalah bayarannya.

Kami main bola itu penuh dengan gengsi. Dulu, kampung kami itu mempunyai sedikit hubungan yang kurang harmonis entah karena apa antara kampung sebelah utara dan selatan. Jadi, jika subuh-subuh main sepakbola itu antara kampung  selatan melawan utara. Dan tak ada wasitnya, namanya sepakbola kampung dan masih anak-anak. Sedikit gesekan saja, maka berakhir ke berantem. Tapi tak lama berantemnya, pasti ada diantara teman-teman yang melerai. Padahal itu puasa. Entahlah, awal muasal sentimen itu darimana. Sepertinya itu sudah jadi budaya. Hingga saya sudah tak main bola, selatan dan utara belum bisa bersatu. Tapi, kalau kampung kami bertandang ke kampung lain maka utara dan selatan itu bersatu. Uniknya disitu.

Saya kurang memperhatikan, tahun-tahun  ini apakah kegiatan seperti itu masih dilakukan oleh adik-adik penerus saya. Kejadian itu sudah lama sekali saya alami, 12 tahun silam bahkan lebih. Jadi main sepak bola itu, bisa dikatakann harga diri antara utara dan selatan. Menang syukur, kalah balas dendam besoknya.

Saya merindukan masa-masa itu. Setiap pagi usai subuhan, jalan-jalan lalu main bola. Sorenya kami habiskan waktu dengan main bola juga. Tapi tidak utara melawan selatan. Main bolanya hanya main menunggu waktu buka tiba, kebetulan saya termasuk team kampung selatan. Begitulah masa anak-anak saya, riang gembira, dan penuh permainan yang asik hingga lupa waktunya belajar. Saya kira masa seperti itu sangat mahal. Tak bisa diulang dan kita hanya bisa mengingatnya sambil senyum-senyum sendiri. Atau ketika reuni kita hanya ketawa terpingkal-pingkal mengingat pola tingkah kita sewaktu kecil.

ilustrasi gambar dari sini