Suara adzan berkumandang di tengah kampung siang itu. Anak berumur belasan tahun bergerombol menuju sumber suara. Pun tak ketinggalan, remaja, bapak-bapak hingga embah kiyai berpeci yang menutupi rambut putihnya jalan tertatih ditemani tongkat kayunya. Hari itu adalah jumat terakhir sebelum bulan ramadhan tiba. Bulan dimana amalan-amalan ibadah kita dilipatgandakan oleh yang Kuasa.

Siang itu, saya seperti lelaki yang lainnya. Berangkat ke masjid, dan melakukan kewajiban sholat jumat. Di perkampungan sekaligus pinggiran Jakarta saya tinggal hampir 5 tahun. Tapi baru sekali ini saya memasuki dan sholat berjamaah di masjid dekat tempat tinggal saya. Tak seperti sebelum-belumnya, saya sholat Jumat di dekat kerjaan, atau kadang tidak menunaikannya.

Berjalan sekira 100an meter, saya tiba di masjid yang bertingkat dua itu. Suasananya sangat beda  dibandingkan dengan daerah tempat saya bekerja. Mungkin ya, sebelumnya saya sholat di wilayah orang pekerja maksudnya orang yang mayoritas bekerja di sektor perkantoran, makanya yang datang pun berbeda. Dan membuat siang itu sangat berbeda auranya.

Duduk sekitar lima menit, saya kembali mengingat ketika masih di kampung. Suasana kurang lebih seperti itu. Bapak-bapak, anak kecil satu shaf dan mendengar khatib dengan khidmat dan yang pasti di belakang ada anak kecil yang menangis minta pulang, gaduh dan lain sebaginya.

Khutbah jumat itu bertema kurang lebih tentang laknat Tuhan. Saya menyimak sedikit, dan ketiduran. Yang saya ingat adalah tentang singkatan STMJ, saya kira minuman ternyata sholat terus, maksiat jalan. Tidak terlalu lama khutbahnya, dan sedikit membosankan maka dari itu saya juga tak terlalu memperhatikan.

***

Perkara sholat jumat, sewaktu masih sekolah dasar saya pernah belajar sedikit tentang sholat jumat. Belajar menjadi khatib, bilal dan lainnya. Saat itu, teman seusia saya memang kebanyakan mengaji. Sudah menjadi sebuah tradisi di kampung kami bahwa pagi hingga siang sekolah formal sedangkan sore harinya mengaji. Ada juga yang belajar mengajinya bagda magrib, hingga menjelang sholat isya’. Setiap hari belajar ngaji itu kami jalani, liburnya adalah hari kamis. Kamis malam jumat. Jika waktu libur, kami senangnya bukan kepalang. Saya sampai saat ini sih belum pernah mondok. Tapi bagi saya, mengaji setiap sore itu seperti mondok walaupun tidak menginap. dan tidak fulltime belajar agama. Diajari dari nol oleh pak kiayai dengan sabar dan ikhlas, satu lagi gratis. Saya mengajinya, pindah-pindah tempat. Pernah di masjid, di rumah ustadnya langsung. Yang terakhir saya paling lama belajar agama di rumah ustadz hingga saya tak mengaji lagi. Disitu saya diajarkan berbagai hal ilmu agama. Dari Fiqih, Tajwid, Tauhid, baca Qur’an Gundul (tanpa harokat), ceramah, doa-doa dan lainnya.

Pun seperti sekolah formal, jadwal mengaji saya itu misal hari senin tajwid, selasa fiqih, dan selanjutnya. Dalam entah seminggu atau dua minggu (saya lupa) kami ada pelajaran ceramah/ pidato. Dari yang jadi pembawa acara, ceramah, pembaca Al Quran, doa (penutup) dan bagian-bagian lainnya. Saya jika ada pelajaran ceramah / pidato, saya senang dapat tugas doa. Ya, doa itu bagian akhir, kurang diperhatikan dan cepat waktunya. Jadi, rasa deg-degannya sedikit. Hehehe. Berbeda jika mendapat tugas pembicara, dalam seminggu ke depan itu harus berfikir tentang tema apa yang mau dibawakan dan ditulis, lantas dihapal. tapi walaupun begitu, tugasnya bergilir dan saya tetep dapat juga. Hingga saat ini, jika berbicara di depan orang banyak saya tetep saja masih grogi, padahal dulu digembleng. Public speaking saya kurang mumpuni.

Hey, come on, itu masih sekolah dasar bro! Saat ini, saya hampir lupa tentang pelajaran-pelajaran itu. Betapa lemahnya saya, dalam hal agama.

Sudahlah, nanti dilanjut lagi tulisannya tentang mengaji yang lebih detail dan lebih asik  ditambah cerita-cerita lucu tentunya. Cukup sekian dari saya, apabila ada kesalahan, itu datangnya dari saya,  wasalamualaikum wr.wb.

nb : ilustrasi gambar diambil dari kfk.kompas.com

SHARE
Previous articlePengangguran
Next articleMarhaban Ya Ramadhan

Writer | Blogger| Freelancer | Work at Setara Network