Seminggu pulang kampung dalam rangka berlebaran, ternyata saya bisa rindu juga sama Jakarta. Jakarta, pusat ibu kota yang sudah menjadi tempat saya belajar, tumbuh, jatuh, dan juga berkembang. Jakarta, yang telah mengajarkan saya banyak pengalaman, mencicipi banyak rasa, menjelajahi banyak peristiwa. Rupanya, kota yang katanya keras dan sadis bisa membuat saya rindu.

Menyambut lebaran, saya mudik ke Ngawi, tepatnya ke sebuah desa kecil dekat stasiun Walikukun yang jauh dari hiruk pikuk kota. Bukan tak menikmati, apalagi tak betah berlebaran di sana, hanya saja kondisi infrastruktur yang masih terbatas, tentu berimbas juga ke komunikasi dan internet. Sebagai orang yang bekerja di ranah digital, tentu komunikasi dan internet adalah tiang penting. Bisa dibilang, tak ada komunikasi dan internet, saya tak bisa bekerja.

Seminggu di sana, saya habiskan dengan berinteraksi intens dengan keluarga. Menikmati kuliner meski  dan menikmati ketenangan yang sukar didapat di Jakarta. Tapi, rupanya, setelah seminggu rindu ini tumbuh meski tak dipupuk, atau mungkin dipupuk hanya saya tak menyadarinya? Perlahan saya rindu menikmati internet stabil di Jakarta, rindu berkuliner di sana yang tak pernah ada habisnya. Saya rindu makan Mie Aceh Kemang, rindu makan burger, pizza, rindu makan sate taichan, rindu ngopi, ah rindu semua yang tak saya temui di sini.

Seminggu berlalu tanpa terasa. Meski rindu akan Jakarta, saya juga menikmati semua cengkrama bersama keluarga. 31 Juni 2019, saya dan istri kembali ke Jakarta. Perjalanan ditempuh dengan pesawat, jadi hanya memerlukan waktu beberapa jam untuk tiba di Jakarta. 1 jam perjalanan dari Ngawi – Solo, dan 1 jam perjalanan dari Solo – Jakarta, dan 30 menit perjalanan Bandara – rumah.

Bertolak dari rumah di Ngawi pukul 05.30, jam 10 pagi sudah tiba di Jakarta. Itulah yang saya suka dari perjalanan dengan naik pesawat, bisa memangkas waktu tempuh. Untungnya tiket pesawat ke Jakarta sudah saya pesan dari jauh-jauh hari di Pegipegi.  Jadi lumayan ada sedikit potongan harga. Jika kamu ingin mendapatkan harga yang lebih murah, bisa pesan dari jauh harui. Eh tapi, pernah suatu ketika saya pesan dadakan dan harganya masih cukup bersahabat juga.

Robit Mikrojul Huda Mudik
saya saat di Bandara Adi Soemarmo Solo menuju Jakarta

Setiba di Jakarta, suasanya belum kembali normal. Masih sepi, dan masih banyak warung atau tempat makan yang belum beroperasi normal. Ah, gagal nebus rindu kulineran di Jakarta. Nah, berikut wishlist kuliner Jakarta yang ingin saya kunjungi minggu depan (semoga sudah beroperasi nomal) yaitu:

Roti Bakar Eddy

Sebagai penikmat kudapan mengeyangkan, saya sangat suka roti bakar. Dan jika berbicara tentang roti bakar, gak lengkap rasanya jika tanpa kata Eddy di belakangnya. Yap, dari jaman kuliah dulu, saya sangat suka roti bakar Eddy terutama roti bakar keju susunya. Rasa manisnya yang pas, keju gurihnya yang nggak berlebihan, dan tingkat kematangan bakaran rotinya yang cukup. Tidak terlalu lembek ataupun kering. Satu lagi tambahan keunggulan dari roti bakar eddy, aromanya yang menguar dari pembakaran membuat saya nyaman berlama-lama duduk di sana.

Sate Taichan Senayan

Saya suka sate taichan, sejak sate taichan belum direlokasi ke dekat Senayan City. Tepatnya sebelum ada Asean Games. Warung sate taichan yang sering saya kunjungi adalah Sate Taichan Alaztha. Pedasnya yang bisa bikin merem merek, potongan daginganya yang cukup besar, membuat saya ketagihan. Terlebih di Sate Taichan Alaztha, dilengkapi koya. Hm, makin maknyos.

Bebek Kaleyo

Sebagai penggemar menu bebek, tentu Restoran Bebek Kaleyo ada di barisan kuliner favorite. Nasi hangat, sambal pedasnya, dan bebeknya yang gurih merupakan perpaduan lengkap yang bikin ketagihan. Meski setiap datang ke sana selalu ramai dan harus sabar menunggu, saya tak pernah jera. Cita rasa khasnya memang pantas untuk diperjuangkan.

Nasi Uduk Gondangdia

Salah satu menu makanan yang tak bisa saya temui di kampung adalah nasi uduk. Jadi, memasukkan nasi uduk terutama Nasi Uduk Gondangdia ke dalam wishlist kuliner yang akan saya kunjungi minggu depan adalah sebuah keharusan. Rindu kuah semurnya, wangi nasi uduknya, lengkap dengan segelas the hangatnya.

Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih

Pecinta daging kambing sepertinya perlu mencoba menu satu ini, nasi goreng kambing kebun sirih. Awalnya saya sedikit ragu untuk mencicipi, karena jujur saya tidak terlalu suka nasi goreng. Tapi saat dicoba, ini beda. Cita rasanya, rempah-rempahnya, benar-benar sangat cocok di lidah saya. Ah, membayangkannya saja bikin ngeces. Hehe…

Nah, itulah kira-kira wishlist kuliner Jakarta yang akan saya kunjungi minggu depan. Sebenarnya ingin lebih cepat, bahkan saat tiba di Jakarta inginnya langsung kulineran. Tapi ternyata, karena masih suasana lebaran, masih banyak warung dan restoran yang belum beroperasi normal. Doakan semoga terlaksana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here