Saya sudah lama tidak menulis atau bercerita tentang kehidupan setelah menikah. Mungkin saya terakhir menulis tentang menikah, sekitar 4 bulan atau 5 bulan, ketika saya baru menikah. Sekarang saya mau menulis, bahwa beberapa waktu lalu tepatnya pada Kamis, 16 Agustus 2018, saya pindah rumah kontrakan.

Jadi, setelah menikah pertengahan bulan Maret tahun ini, saya menyewa sebuah rumah di daerah Permata Hijau. Kenapa saya memilih lokasi tersebut, karena tempatnya sangat strategis. Mau ke Jakarta Pusat, lumayan dekat, ke barat juga dekat, apalagi ke selatan.

Tapi yang menjadi kendala adalah, rumah yang saya dan istri sewa adalah tempatnya di lantai dua. Ya, di atas. Selain di atas, rumahnya juga sempit. Meskipun kami hanya tinggal berdua, rasanya sangat kurang.

Apalagi ketika teman-teman saya datang berkunjung, maka seperti sarden saja. Menumpuk. Memprihatinkan sekali. Saya tinggal mulai Maret sampai pertengahan Agustus, total sekitar 5 bulan.

Dengan alasan tersebut, akhirnya saya dan istri mencoba mencari rumah yang agak besar untuk kami tinggali. Proses pencarian rumah ini lumayan lama. Bahkan kami sejak awal bulan Juli sudah mencari.

Hampir setiap sore kami mencari rumah kontrakan di sekitar Permata Hijau, Kebon Jeruk, dan Kebayoran Lama. Tiga lokasi tersebut kami kelilingi untuk mendapatkan rumah yang cocok. Selama sebulan lebih kami mencari rumah kontrakan. Kok lama banget sih? Memangnya seperti apa sih yang dicari?

Jadi, karena kami adalah pasangan muda. Maka dalam segi finansial masih naik turun dan tak menentu. Penghasilan kami berdua, terkadang kurang untuk memenuhi kebutuhan dalam sebulan.

Oleh karena itu, kami mencari rumah kontrakan yang sesuai budget. Yang menjadi lama dan sulit menemukan adalah, karena di lokasi yang kami cari itu sangat mahal-mahal.

Rumah yang kami incar dan rasanya cocok, rata-rata harga sewa perbulannya lebih dari 1,5 juta. Bahkan mendekati angka 2 juta. Sebenarnya kalau dipaksa, angka tersebut masih masuk dengan keuangan kami, tapi buat apa sewa harga tinggi. Mending untuk nyicil KPR (pikiran kami).

Dengan alasan tersebut, kami mencari rumah yang sesuai dengan harga dan yang pas dengan pilihan sangat susah. Makanya dari awal bulan Juli, sampai akhir Juli kami belum menemukan. Jadi, kami terpaksa memperpanjang rumah kontrakan di tempat lama.

Bulan Agustus tiba, kami masih terus mencari. Satu demi satu kontrakan kami kelilingi. Tapi tak kunjung dapat juga. Bahkan, kami sampai frustasi, dan tidak jadi pindah.

Namun, usaha kami akhirnya membuahkan hasil. Teman saya dan istri, Mba Ratih, seorang blogger juga, memberi info bahwa di tempat temannya ada rumah kontrakan kosong.

Yang membuat kami tertarik adalah, dia mengatakan rumahnya di bawah, dan memiliki empat ruang. Ditambah lagi, harganya masih cocok dengan kondisi keuangan kami. Hanya ada tambahan dengan membayar listrik sendiri. Wah, setuju banget, kalau ini.

Entah kapan, pokoknya di awal Agustus, saya dan istri segera menghubungi yang punya rumah, dan ingin melihat kondisinya.

Kesan pertama, saya langsung setuju. Karena lokasinya meski agak jauh dengan Permata Hijau, tapi memiliki kelebihan dengan ruangan yang jauh lebih lega dengan sebelumnya. Kalau kesan istri saya, masih ragu-ragu. Karena katanya kurang sreg.

Tapi, akhirnya kami memilih menyewa rumah dari temannya Mba Ratih, dengan mengajukan beberapa persyaratan. Di antaranya adalah, di depan rumah, harus diberi pagar, dan di dalam, dicat ulang. Biar terlihat baru.

Beruntungnya, yang punya rumah setuju dengan persyaratan yang kami ajukan. Tapi, untuk biaya cat rumah, saya yang membayar. Oke, gakpapa.

Proses Pindahan yang berat

Benar, prosesnya memang berat. Kami memutuskan pindah dari rumah kontrakan lama tanggal 16 Agustus 2018. Waktu itu sudah menjelang magrib.

Saya memilih salah satu layanan mobil online untuk mengangkut semua barang-barang kami. Dan, proses itu sangat menguras tenaga. Karena saya dan supir saja yang mengangkat semua barang. Sedikit-sedikit juga dibantu oleh istri sih, yang ringan.

Mulai dari lemari, televisi, pakaian, dan peralatan lainnya saya dan pak supir dipindahin satu persatu. Saya yang tidak terbiasa dengan mengangkat barang berat, rasanya ingin pingsan ketika proses pindahan sampai di tempat rumah baru.

Hingga menjelang malam, kami masih angkat-angkat barang di rumah kontrakan baru. Alamaaakk, capainya berkali-kali lipat. Benar-benar kerja keras bagai kuda.

Tinggal di Rumah Kontrakan Baru

Jadi selama hari Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu kami masih melakukan beres-beres rumah. Mulai dari menata tempat foto, televisi, lemari, rak piring, dan lain sebagainya.

Proses beberes ini benar-benar menguras tenaga. Apalagi dikerjakan oleh kami berdua. Meski demikian, kami tetap semangat, karena jika tidak dikerjakan, siapa lagi yang mau mengerjakan. Akhirnya satu demi satu barang sudah kembali rapih. Kami berdua sedikit lega.

Salah satu sudut ruangan, yang dijadikan tempat kerja
Salah satu sudut ruangan, yang dijadikan tempat kerja

Seperti yang saya ceritakan di atas, bahwa rumah yang kami sewa ini membayar listriknya sendiri-sendiri. Berbeda dengan rumah lama yang masih gabung dengan pemilik rumah.

Jadi, oleh pemilik rumah baru, saya sudah dikirim nomor pelanggan listrik, untuk mengisi daya, ketika habis. Dengan seperti ini, malah lebih bebas, karena penggunaan listriknya bisa kami atur.

Tepat, pada hari Minggu 26 Agustus kemarin, listrik di depan rumah bunyi. Artinya dayanya akan habis. Tapi saya tidak bingung, karena saat ini membeli token listrik sangat mudah.

Mengapa sangat mudah? Karena saya tidak susah payah datang ke toko, atau mini market dan lain sebagainya. Saya bisa membeli token listrik dari rumah, bahkan sambil tiduran.

Hal ini saya lakukan kemarin dengan membeli token listrik di Aplikasi Traveloka. Mengapa saya memilih Traveloka? Karena memang saya sudah lama memiliki aplikasinya di handphone. Tak hanya untuk membeli token listrik saja sih, misalnya mudik lebaran kemarin saya membeli tiket lewat Traveloka.

Proses Pembayaran di Aplikasi Traveloka
Proses Pembayaran di Aplikasi Traveloka

Beberapa hal alasan karena saya memilih Traveloka karena memang harganya terjangkau dan memiliki fitur terbaik. Saya membeli token listrik di Traveloka tidak memerlukan waktu lama. Bahkan tak sampai 3 menit.

Karena baru tinggal di rumah kontrakan baru, maka saya mencoba membeli token listrik yang nilainya 50 ribu. Saya mau ngecek, dengan 50 ribu, akan bertahan berapa lama. Jadi ke depannya saya bisa mengatur berapa biaya yang harus kami keluarkan untuk pembayaran listrik tiap bulannya.

Transaksi Saya berhasil, dan menerima kode token
Transaksi Saya berhasil, dan menerima kode token

Oh ya, dari awal saya belum memberi tahu ya, di mana lokasi rumah kontrakan yang baru? Jadi teman-teman yang ingin main ke rumah kontrakan kami, bisa banget kok. Lokasinya di daerah Joglo, gak Joglo banget sih, sekitar Taman Alfa Indah.

Yuk, teman-teman yang tinggal di Joglo, Kebon Jeruk, Ciledug, dan sekitarnya, bisa mampir ke rumah kontrakan kami.  Semoga, proses pindahan ke depan, tidak dengan menyewa rumah, tapi pindah rumah milik sendiri. Doakan, ya teman-teman.

15 COMMENTS

  1. Wih ternyata begini ya kisah pindah rumah pasangan pengantin baru hahaha.. Abang sopirnya dapet tip gak tuh? Wkwkwk.. Tapi untunglah dapet ruangan yang lebih luas. Apalagi bayar listriknya makin mudah pake traveloka.

    Thanks kisahnya bang. Keep spirit!

  2. alhamdulillah sukses pindahannya ya pak, perjuangan yang besar dan melelahkan..
    tapi, salut sama mas robit bisa menjadi seorangs suami yang kuat dan selalu buat bangga mba shinta.
    semoga betah di kontrakan yang baru ya mas robit..

  3. Dulu sebelum menikah, istri saya bekerja di perumahan Taman Alfa Indah, tapi sekarang sudah jadi IRT. Saya pernah main ke sana, dekat lapangan merah. Tapi entah sekarang Joglo udah kayak apa, tambah macet atau gimana mas? Oh iya salam kenal dari blogmashendra… Semoga gak lama lagi bisa pindah ke rumah sendiri ya, aaaamiiiin

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here