Saya masih ingat betul saat menerima kabar bahwa Gus Dur telah tiada. Waktu itu 30 Desember 2009. Saat itu saya masih di kampung dan merayakan pergantian malam tahun baru bersama teman. Seketika itu, pergantian tahun baru terasa hambar bagi saya.

Sebagian besar masyarakat di Indonesia, jika ditanya mengenai sosok Gus Dur, pasti akan banyak yang menjawab “pluralis”, “humanis”, dan pembela kaum minoritas.

Gus Dur lahir di Jombang pada 7 September 1940, dengan nama Abdurrahman Addakhil, lalu diganti menjadi Abdurrahman Wahid. Perjalanan Gus Dur dan karirnya di Nahdlatul Ulama (NU), mendirikan Partai kebangkitan Bangsa (PKB) dan sampai menjadi presiden Indonesia ke 4, memiliki cerita yang panjang. Saya tidak akan membahas mengenai karir politiknya. Akan tetapi lebih kepada pemikiran-pemikirannya.

Kalau saya menulis tentang karir politiknya, utamanya di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), rasanya perlu belajar lebih dalam lagi. Saya akan membahas hal-hal yang ngena banget di hati saya, dan sampai sekarang masih ingat.

Pluralisme
Jika mendengar kata pluralis, satu tokoh yang terpaku di benak saya, siapa lagi kalau bukan Gus Dur. Ia sangat menjunjung tinggi pluralisme, dan salah satu orang yang pluralis di Indonesia. Gus Dur sangat menghargai pilihan keyakinan dan agama orang lain.

Kondisi ini juga membuat Gus Dur cenderung reaktif kepada siapa saja, entah itu individu maupun lembaga yang berusaha menghalangi orang lain untuk mencari kebenaran yang diyakininya.

Menurut Gus Dur, “semua agama mengajarkan kebaikan dan kebenaran sesuai keyakinannya”. Jadi, kita bisa mengambil sedikit kesimpulan bahwa Gus Dur lebih mengutamakan keutuhan serta kedamaian bangsa dengan tanpa kehilangan indentitas keyakinannya. Oleh karena itu, Gus Dur bisa disebut Bapak Pluralisme dan juga Bapak Bangsa.

Komitmen dan sensitif dengan keadilan dan Hak Asasi Manusia (HAM)
Gus Dur bisa menjadi panutan bagi kita, sebagai generasi muda Indonesia.  “Gus Dur pada dasarnya membela siapapun yang memang rentan menjadi korban sistem besar yang tidak adil,” kata Savic Ali, aktivis muda Nahdlatul ulama.

Hal ini bisa kita lihat pada etnis Tionghoa. Gus Dur sangat toleran dan mengembalikan hak-hak bagi etnis Tionghoa, yang pada saat Orde Baru ditekan, misalnya tentang ketidakbolehan pemerintah pada aktivitas pengajaran bahasa Cina, dan hak-hal lai yang diberangus.

GUs Dur dan Pemikirannya

Ekonomi Kerakyatan
Meski Gus Dur menjadi presiden ke 4 hanya beberapa tahun, tapi kebijakan ekonominya bisa menjdi rujukan bagi pemerintah Indonesia saat ini maupun di waktu yang akan datang. Sebab, selain dipandang sebagai Bapak Pluralisme, Gus Dur juga dikenal sebagai pemikir dan pejuang “Ekonomi Kerakyatan”. Namun, hal ini masih sedikit publik yang tahu.

Saat Gus Dur menjadi presiden, visi ekonomi pemerintahan dibangun di atas pondasi untuk melindungi kepentingan sebagian masyarakat Indonesia yang masih tertinggal, tidak mampu, dan terpinggirkan. Oleh karena itu, berbagai kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh Gus dur berpihak kepada kaum marjinal.

Contoh yang nyata adalah dari Ekonomi Kerakyatan adalah adanya hukum pajak yang lebih ketat. Hukum pajak ini berlaku bagi sebagian kecil masyarakat Indonesia yang memegang mayoritas sumber daya ekonomi di tanah air. Kebijakan ini menghasilkan Tax Ratio terhadap PDB mencapai 10,7% hanya dalam jangka waktu dua tahun.

Pada era sekarang, visi dan semanagt Gus Dur dalam membangun ekonomi tersebut dihidupkan kembali, yakni dengan cara pembangunan berbasis perdesaan. Salah satu wujudnya adalah pembentukan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. Terdapat 4 program unggula desa yang diusung, di antaranya adalah PRUKADES, BUMDES, Embung Desa, dan Sarana Olahraga Desa. Empat program tersebut dibuat guna meningkatkan ekonomi rakyat dan juga untuk membangun Indonesia dari pinggiran.

Semoga dengan pemikiran Gus Dur yang diaplikasikan di pemerintahan saat ini, bisa membantu Indonesia lebih maju, terutama di desa-desa di seluruh Indonesia.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here