Ketika adzan Isya’ berkumandang
aku dengan berat hati
meninggalakan desa
tanah kelahiranku

Ditemani bapak dan ibu
ku langkahkan kakiku
menuju stasiun
di mana orang-orang berkumpul
menunggu kereta
yang selalu terlambat itu

Aku pamit kepada ibu
seketika airmata pecah dan mengalir ke pipi
semakin tak tega
meninggalkan ibu yang menangis sendu

Hawa dingin menyeruak ke tubuh
dan guguran daun bambu kering
menghiasi malam tanpa bintang
airmata pun tak kuasa jatuh
sedikit ku alihkan perhatian
ke tulisan-tulisan di dinding yang bikin pusing

Keterangan: gambar dari http://semboyan35.com

@RobitMH
Walikukun, 26 Desember 2012

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here