“Belajar itu bisa di mana saja dan kapan saja” atau pernah dengar “semua orang itu guru, alam raya sekolahku”

Ungkapan di atas sering saya dengar dan memang seharusnya seperti itu. Jadi belajar tidak melulu di ruangan kelas. Dulu saya ingat betul bahwa ketika sekolah, setiap hari diberi pelajaran di dalam kelas. Hal ini terkadang membuat saya jenuh.

Karena suasana dan atmosfir dalam mencari ilmu bisa dikatakan begitu-begitu saja. Alhasil, terkadang ada murid yang tertidur, tidak menyimak saat guru menjelaskan, dan hal-hal lainnya.

Padahal jika ada inovasi selain di ruang kelas akan lebih menyenangkan. Murid akan mendapat pengalaman baru dan pengetahuan baru. Tidak hanya ilmu dari guru saja, akan tetapi murid juga akan mendapat pengetahuan mengenai belajar di luar kelas.

Selain mendapat pengetahuan baru, murid juga akan bisa lebih mengembangkan kreativitasnya. Nah hal ini yang akan saya bahas pada tulisan ini, apakah bermanfaat belajar di luar kelas itu? Di Indonesia apakah sudah menerapkan sistem ini?

Murid Tidak Jenuh atau Bosan
Sudah terbayang kan teman-teman waktu di sekolah dulu itu setiap hari di dalam kelas. Dalm sehari bisa menghabiskan 5 jam lebih. Oleh karena itu, harus ada program mengenai belajar di luar kelas. Jadi kegiatan belajar mengajar tidak seperti biasanya. Murid tidak akan merasa jenuh dan monoton saat belajar.

Murid Bisa Lebih Kreatif
Belajar di luar kelas juga akan membuat murid bisa mengembangkan kreativitasnya karena dituntut untuk mengerjakan sesuatu. Hal ini juga menjadikan murid bisa belajar dan bermain.

Pelajaran yang didapatkan hanya pelajaran teori saja, tetapi yang didapatkan  juga pengalaman dan bias langsung mempraktikkan teori yang telah diajarkan oleh guru. Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan oleh murid. Bukan hanya itu saja, murid juga bisa lebih mengeksplorasi apa yang diberi oleh guru.

Mendorong Untuk Terus Belajar
Dengan belajar di luar kelas, murid akan bisa melihat lingkungan sekitar. Mulai dari situasi alam, pohon, langit, dan lain sebagainya. Hal ini akan membuat murid lebih senang dan menimbulkan untuk terus belajar. Selain itu, belajar di luar kelas juga menjadi motivasi murid untuk terus belajar danlebih menggembirakan.

Tiga alasan atau manfaat belajar di luar kelas tesebut bisa menjadi konsern di sekolah-sekolah di Indonesia. Di luar negeri pun ternyata juga sudah ada program belajar di luar kelas.

Tahukah bahwa setiap tanggal 1 November adalah hari belajar di Luar Kelas atau Outdoor Clasroom Day (OCDay). Peringatan ini dilaksanakan serentak di sekolah-sekolah di dunia.

Seperti yang telah sedikit saya bahas di atas mengenai manfaat belajar di luar kelas. Ternyata di Indonesia juga sudah melakukan hal ini. Indonesia turut berpartisipasi dalam merayakan Hari Belajar di Luar kelas.

Peringatan OCDay ini salah satunya dilakukan oleh SMAN 2 Tangerang Selatan. Selain memperingati, kegiatan ini juga salah satu upaya untuk mendukung Sekolah Ramah Anak (SRA). Kampanye Hari Belajar di Luar Kelas atau OCDay merupakan kampanye global untuk menginspirasi aktivitas belajar  luar kelas, dengan minimal 90 menit setiap hari.

Kegembiraan anak-anak saat melaksanakan OCDay 2018
Kegembiraan anak-anak saat melaksanakan OCDay 2018

Di tahun ini ribuan sekolah di seluruh dunia ikut merayakan dan mengambil bagian pada kampanye Hari Belajar di luar Kelas. Sebanyak 120 negara di seluruh dunia melakukan Belajar di Lar Kelas, seperti; Inggris, Clomobia, Saudi Arabia, Amerika, dan Australia.

Pada perayaan OCDay tahun ini tercatat sebanyak 3.464.843 anak-anak dari 27.819 sekolah di dunia melakukan OCDay. Indonesia pun tak ikut ketinggalan untuk merayakan OCDay. Sebanyak 927.395 anak-anak di seluruh Indonesia dari 3.907 sekolah maupun madrasah di Indonesia telah mengikuti kampanye Belajar di Luar Kelas.

Anak-anak saat melakukan kegiatan OCDay 2018
Anak-anak saat melakukan kegiatan OCDay 2018

Dalam perayaan di SMAN 2 Tangerang Selatan (Puspitek), dihadiri oleh Deputi Menteri PPPA Bidang Tumbuh Kembang Anak, Ibu Lenny N. Rosalin. Ia menyatakan pelaksanaan OCDAy dan SRA ini bisa melindungi anak dari berbagai kekerasan maupun eksploitasi yang berada di sekolah.

“Salah satu indikator terbentuknya Sekolah Ramah Anak adalah kegiatan belajar di luar kelas. Sekolah Ramah Anak membantu mewujudkan kondisi aman, nyaman, serta dan menyenangkan, selama anak di sekolah. Karena itu, belajar di luar kelas sangat dibutuhkan untuk menunjang proses belajar ramah anak. Dengan demikian diharapkan kesehatan mental dan fisik anak-anak kita semakin baik. Membuat mereka semakin banyak melakukan aktivitas yang juga baik untuk tumbuh kembangnya. Sekolah Ramah Anak ini juga sudah luar biasa membantu menciptakan suasana belajar yang membangun karakter positif anak yang penuh persaudaraan dan keakraban,” ungkap Ibu Lenny.

Sebelumnya, pada tahun 2017 Indonesia juga telah melakukan OCDay. Hal ini diawali dengan kerjasama antara Deputi Menteri PPPA Bidang Tumbuh Kembang ANjak dengan KetuaOCDAy Global yang berkantor pusat di London, Inggris.

Pada pelaksanaan OCDay tahun ini, di Indonesia menggunakan konsep yang berbeda dan lebih variatif dibandingkan tahun lalu. Karena terdapat 17 langkah kegiatan dan 10 nilai positif yang dilakukan olh anak-anak dalam durasi sekitar 3 jam.

Pelaksanaan ini juga didukung dengan baik oleh KPPPA. Sebab dengan diadakannya OCDay akan mendukung pemenuhan hak anak. Selain itu tujuan pelaksanaan OCDay jua untuk mencapai tujuan pendidikan melalui proses pembelajaran yang lebih menyenangkan.

Semoga dengan diadakannya kampanye belajar di Luar Kelas ini, anak-anak khususnya di Indonesia tambah semangat dalam belajar. Hal ini juga akan membuat generasi bagsa ke depannya bisa lebih maju dan kreatif.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here