Adalah Sukarno, seorang lelaki berusia 85 tahun. Ia adalah mbah kandung saya. Bapak dari pihak ibu saya. Walaupun usianya sudah sangat senja, namun ia masih paham betul dan ingat sejarah-sejarah yang ia alami. Mulai dari cerita jaman belanda, jepang, peristiwa madiun 48 danmencetusnya gestok (pembantaian kaum komunis ’65-66). Ingatannya masih tajam sekali.

Saya memanggilnya atau saudara-saudara dekatnya dengan “Mbah Nano”. Entah dari mana julukan nama tersebut, namun saya sedari kecil hingga sekarang memanggilnya demikian.

Setiap lebaran tiba, saya selalu menyempatkan datang ke rumahnya. Rumahnya tak jauh dari tempat tinggal saya. Hanya sepelemparan batu. Rumah yang ia tempati kecil, namun mempunyai banyak sejarah. Dari saya kecil hingga sekarang tak ada banyak perubahan. Begitu-begitu saja dan tidak direnovasi. Sebab utamanya ialah, faktor ekonomi.

Ia hidup dengan istrinya, mbah putri saya. Itulah cinta sejati. Memang seperti itulah cinta itu dilalui. Berjuang bersama hingga usia yang tak lagi muda. Dan terus bersama.

Beberapa tahun belakangan ini, Mbah Nano jalannya menggunakan alat bantu, yaitu dengan tongkat. Tongkat itu terbuat dari bambu. Namun ajaibnya ia masih bisa bersepeda. Jika ia ingin  ke rumah saya ataupun anaknya (semua anaknya tinggal di kampung yang sama) atau ada keperluan yang jaraknya dekat-dekat ia naik sepeda. Tentu dengan pelan-pelan sekali.

Saya jika ketemu dengannya pasti saya pancing untuk becerita masa lalunya, sejarah, apapun itu tentang sejarah. Dari politik, kehidupan, dan lain-lain.

Pada waktu mencetusnya peristiwa G30S, ia adalah pedagang singkong di kampungnya. Namun bukan kampung yang ia tinggali sekarang. Ia tak tahu menahu tentang pergerakan perpolitikan masa itu. “namanya wong cilik, pokoknya ikut negara ‘le” katanya. Ketika saya bertanaya tentang peristiwa Gestok. Tentu obrolan itu dengan bahasa jawa. Saya tertarik dengan cerita ’65-66 ini. Saya lalu bertanya, lha terus siapa saja mbah yang dibunuh atau dihabisi?. “banyak.  Dan dinaikkan ke truk. Nama-namanya sudah ada di dalam data”. jawabnya. Lantas saya menanyakan siapa itu yang menculik dan memasukkan ke truk? “ansor” jawabnya dengan sedikit ragu. GP Ansor ya mbah? berondongan pertanyaan saya kepadanya. “iya le” jawabnya.

Lalu ia melinting kretek dengan terampil, kemudian menyalakan dan dihisap dalam-dalam kreteknya. “Sebenarnya ide PKI itu gini (sambil mengacungkan jempol tangan kanannya” ujar mbah saya. “itu (PKI) kalau tidak diberantas, pahamnya jos sebenarnya, semua adil seadilnya” lanjutnya. Saya langsung menjawab dengan sigap, “lha serius itu mbah?”.

 

***

Mbah Nano sedang menyalakan kreteknya
Mbah Nano sedang menyalakan kreteknya

Obrolan itu terjadi di beranda rumah saya. Ia mengatakan kepada saya bahwa baru saja beli mbako (tembakau). “segitu berapa mbah?” tanya saya. “segini (sambil menunjukkan tembakaunya) 15 ribu” jawabnya. Menurutnya, tembakau itu ia habiskan selama 15 hari dan juga masih ditambahkan dengan cengkeh 2 gendel seharga 14 ribu. Jadi dalam sebulan ia menghabiskan 60 ribu untuk kegiatan merokoknya. Hal ini jika sedang minim keuangan, misalnya kalo lebaran atau masa panen tiba, ia lebih banyak menghabiskan kreteknya daripada yang saya sebut tadi.

Mbah Nano mempunyai 3 anak. 2 perempuan dan satu lelaki. Ibu saya adalah anak bungsu. Jika saat ini marak terjadinya kampanye #antitembakau #antirokok dan baladewanya, maka ia belum tahu saja, bahwa mbah saya hingga detik ini masih ngerokok, sehat dan tentu saja usianya panjang.

Mbah Nano ketika ngobrol di beranda rumah saya
Mbah Nano ketika ngobrol di beranda rumah saya
Obrolan saya dengannya itu tak lama, karena senja mulai datang. Mbah saya pamit pulang dan sebagai cucu yang baik saya mengantarnya pulang. Tiba di rumahnya saya masih menyambung cerita-cerita tentang tragedi atau pecahnya G30S.

Sebenarnya saya masih menyimpan banyak cerita tentangnya. Cerita ketika orang Masyumi dibakar oleh PKI dan cerita tentang bagaiamana orang-oramg PKI diciduk dan disembelih dan lain-lain.

Disclaimer: Di sini saya menuliskan secara sepihak. Dari satu sumber. Jika ada sejarah yang salah, ya maklum, saya bukan penulis sejarah. Saya hanya menuliskan apa yang saya dapatkan dari mbah saya.