Sepertinya saya sudah lama banget tidak jalan-jalan. Bukan karena sibuk atau tidak ada waktu, pokoknya kurang tepat aja sih waktunya, jika ada teman yang mengajak jalan-jalan. Padahal kalau ditanya ada waktu luang gak sih? Saya akan menjawab: ada! Namun, nyatanya selalu saja ada kegiatan yang bentrok, tidak di hari kerja saja, akhir pekan pun demikian.

Terakhir liburan kapan ya? Sebulan? dua bulan? Tiga bulan? Atau bahkan lebih? Entahlah. Saking lamanya tidak jalan-jalan, sampai lupa. Padahal di tengah hiruk pikikunya Jakarta, saya harus sebisa mungkin menyempatkan untuk liburan.

Mengapa sih kok tetiba saya ngomongin tentang liburan? jadi gini, beberapa waktu lalu, tepatnya hari Kamis, 18 Oktober 2018 lalu, saya dan teman-tema blogger diajak oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (“Indocement”) Produsen Semen Tiga Roda dan Semen Rajawali untuk mengunjungi Kampung Kaleng serta Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat (P3M) di Citeureup, Kab. Bogor.

Senang dong, sudah lama tidak keluar kota, dan dapat kesempatan main ke Bogor. Meski tidak terlalu jauh, tapi setidaknya saya bisa menikmati sejenak udara segar luar Jakarta.

Kami berangkat dari Wisma Indocement, Sudirman sekitar jam 7 pagi. Biasanya jam segitu sih saya masih tidur-tiduran. Sekitar satu jam lebih waktu yang kami tempuh untuk sampai ke Citeureup.

Mengunjungi Kampung Kaleng
Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Kampung Kaleng yang terletak di Kampung Dukuh, Desa Pasir Mukti, Citeureup, Kab. Bogor. Kampung ini merupakan sentra industri kerajinan berbahan dasar kaleng atau alumunium. Oleh karena itu, nama kampungnya disebut dengan Kampung Kaleng. Saya yang pertama kali datang ke Kampung Kaleng sangat antusias.

Kami dipandu oleh Pak Dedi Ahmadi atau Dedi Rancage. Di Kampung Kaleng, kami diajak mengelilingi beberapa rumah pengrajin. Rumah pertama yang kami kunjungi adalah rumah Pak Mansyur, warga sekitar memamnggilnya dengan Pak Acun. Ia adalah pengrajin oven gas yang berbahan dasar plat dan stainless.

Oven Gas hasil buatan Pak Acun biasanya dipasarkan di Cawang, Jakarta Timur. Ia memproduksi beberapa jenis oven, mulai dari yang kecil hingga besar dengan harga yang bervariasi. Satu oven ia jual dari harga 1 jutaan, hingga 2 juta lebih.

“ini kita jual dengan harga 1,9 juta” jelasnya, sambil menunjuk salah satu produk oven yang dibuat.

salah satu pengrajin di kampung kaleng
salah satu pengrajin di kampung kaleng

Setelah itu kami melanjutkan ke beberapa rumah warga lain. Jadi di Kampung Kaleng, warganya tidak hanya memproduksi oven gas saja, karena di sini ada yang membuat cetakan kue, panci, kaleng kerupuk, aksesoris kendaraan, peralatan rumah tangga, tempat sampah, serta produk lainnya.

Beberapa pengrajin di Kampung Kaleng bahkan ada yang hanya lulusan sekolah dasar saja. Namun mereka tidak kalah dengan yang lulusan sekolah tinggi. Karena para pengrajin ini stelah memiliki kemampuan yang mumpuni dalam membuat produk berbahan dasar alumunium.

pengajin sedang memotong bahan untuk kaleng
Pengajin sedang memotong bahan untuk kaleng

Koperasi Rancage
Setelah berkeliling ke beberapa rumah warga dan ngobrol dengan para pengrajin, kami diajak ke Koperasi Rancage. Koperasi Rancage didirikan pada tahun 2015. Sebelum ada koperasi ini, tedapat Kelompok Usaha Bersama (KUB) Rancage yang didirikan oleh Pak Dedi Ahmadi (Dedi rancage) yang telah berdiri sejak tahun 2012. Bahkan Dedi Rancage juga mendapat medali Satya Lencana Pembangunan dan Bakti Koperasi dari Kementerian Koperasi dan UMKM RI.

Beberapa produk yang dihasilkan oleh Pengrajin dari Kampung Kaleng
Beberapa produk yang dihasilkan oleh Pengrajin dari Kampung Kaleng

Sejak didirikan, Koperasi Rancage kini memiliki jumlah anggota sebanyak 120 orang, yang tersebar tidak hanya dari Kampung Dukuh saja, akan tetapi di seluruh Kecamatan Citeureup. Koperasi ini dibina oleh Indocement. Tujuan berdirinya koperasi Rancage adalah untuk menopang dan mendorong pengrajin, serta menyatukan para pengrajin mengenai perang harga di antaranya pengrajin yang ada di Kampung Kaleng.

Mengunjungi P3M Kompleks Pabrik Citeureup (P3M hambalang)
Setelah berkeliling di rumah pengrajin dan Koperasi Rancage, perjalanan dilanjutkan ke Pusat Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat atau P3M Hambalang. Jarak antara Kampung Kaleng ke tempat ini kurang lebih 20 menit dengan ditempuh bus atau mobil.

 

Tempat ini adalah berada di area reklamasi pasca tambang Indocement dengan luas mencapai 10,5 hektar. Di P3M Hambalang, terdapat beberapa fasilitas seperti peternakan, perkebunan, perikanan, dan energi bersih.

Salah satu tempat peternakan kambing dan domba di P3M Hambalang
Salah satu tempat peternakan kambing dan domba di P3M Hambalang

Tempat pertama yang kami kunjungi di P3M Hambalang adalah di peternakan. Kami ditunjukkan pertenakan ikan. Beberapa jenis ikan yang dibudidayakan di sini di antaranya seperti lele, ikan hias, dan lain sebagainya. Selanjutnya kami diajak ke peternakan domba dan kambing. Kambing-kambing di sini sangat banyak. Bahkan ada kambing yang baru lahir.

“Baru banget lahir, usianya baru 5 hari” kata bapak penjaga.

Kambing yang baru lahir ada 2 ekor, dan menggemaskan. Bahkan ada salah satu blogger yang menggendong anak kambing tersebut. Tidak hanya kambing saja yang dipelihara di sini, akan tetapi domba pun juga ada.

Setelah puas di petenakan, kami diajak mengunjungi ke perkebunan. Sebelum ke tempat ini, kami sudah diberi tahu bahwa ada perkebunan melon. Saya yang suka dengan melon, sangat girang. Kapan lagi main langsung ke perkebunan melon.

Di rumah, hampir selalu ada buah-buahan. Kalau tidak melon ya semangka. Setiap seminggu sekali, saya ke pasar untuk membeli buah-buahan. Makanya, saat dikasih tahu akan ke tempat melon, saya sangat girang.

Nah ini adalah melon emas
Nah ini adalah melon emas

Benar saja, baru melangkahkan kaki di perkebunan melon, auranya sangat sejuk. Melon yang ditanam di sini adalah melon emas. Saya sebagai penikmat melon, malah belum pernah makan jenis melon yang satu ini.

Dari awal menanam dan sampai panen, melon emas di P3M Hambalang membutuhkan waktu sekitar 40 hari. Lumayan cepat bukan? Melon emas itu berbeda dengan melon biasa, karena bentuknya lebih memanjang alisa lonjong, bukan bulat seperti yang ada di pasaran.

Setelah berkunjung ke perkebunan melon, waktunya makan siang tiba. Jadi kami disuguhi menu yang tradisional banget. Mulai dari sayur jantung pisang, tumis cumi, sampai tumis ikan. Enaaaak banget. Setelah berkeliling setengah hari lebih, akhirnya kami dibayar tuntas dengan menyantap makanan yang jarang saya dapatkan di Jakarta.

Sebagai menu penutup, kami disuguhi melon emas. Aha! ini yang saya tunggu-tunggu sejak tadi. Melon emas ternyata sangat berbeda dengan melon pada umumnya. Saya kira melon ini empuk, ternyata teksturnya keras seperti melon mentah. Meski  keras, ternyata rasanya manis banget. Melon yang biasa saya makan, rasa manisnya masih kalah dengan melon emas.

Saya bersama teman-teman blogger
Saya bersama teman-teman blogger

Usai melahap beberapa potong melon emas, akhirnya perjalanan kampi pun selesai. kami kembali ke Jakarta sekitar setengah 2 siang. Seru banget dan saya memiliki banyak pengetahuan baru, mulai dari Kampung kaleng, Koperasi Rancage, perikanan, bahkan sampai melon emas.

Kami sampai di Jakarta sekitar jam 3 sore. Rasa capek dan lelah terbayar dengan rasa manisnya melon emas. Semoga kapan-kapan saya bisa main lagi ke sana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here