Hingga hari ini, sego pecel atau nasi pecel sudah menjadi bagian dari warga Ngawi. Jika nasi uduk adalah representasi dari warga Jakarta untuk sarapan, pun dengan di Ngawi adalah sego pecel.

Masayrakat Ngawi yang sebagian besar bertani atau menjadi buruh tani, menjadikan sego pecel makanan kesehariannya (mayoritas). Sego pecel sudah melekat kepada masyarakat Ngawi, tak hanya Madiun saja, yang memang bersebelahan letaknya.

Nasi Pecel, ia menjadi teman pagi bagi warga Ngawi. Ketika di sawah, maupun anak-anak mereka yang akan berangkat ke sekolah. Tidak, tidak seperti di kota besar, anak-anak sekolah di Ngawi, masih jarang yang sarapan dengan roti dan minum susu. Ada, namun masih bisa dihitung dengan jari. Karena ekonomi di Ngawi bisa dibilang mayoritas ekonominya serba kekurangan.

Sego pecel yang sangat sederhana bahan-bahannya menjadi primadona bagi masyarakat kebanyakan di Ngawi. Ia terbuat dari sayur-sayuran yang didapat dari pekarangan rumah atau warung-warung, atau kalau mau jauh ya ke pasar. Seperti daun bayam, keningkir, lembayung, kacang panjang, capar (toge) dan lainnya. Untuk sambalnya adalah sambal kacang, sambal itu sendiri agak berbeda dengan sambal kacang lainnya, untuk di Ngawi ia agak kasar dan pedas dari sambal kacang pada umumnya.

Ketika saya berusia kisaran 7 – 10 tahun atau di tahun 2000-an awal sego pecel sudah menjadi bagian dari hidup saya. Waktu itu, mbah saya kebetulan adalah pedagang sego pecel yang buka hanya di kala pagi saja. Ia membuka warung setelah sholat subuh, sekitar pukul 5.

Saya ketika mau berangkat sekolah tak lupa sarapan dari dagangan mbah putri. Sego pecel ditambah mie, kering (orek tempe) dan juga kerupuk asin (kerupuk dari nasi kering, atau bisa disebut kerupuk karak). Begitulah sarapan saya tiap pagi, dan saya menyukai itu.

Keluarga kami adalah keluarga yang berangkat dari kesederhanaan dan berdagang adalah salah satu penghidupan sehari-hari. Namun sudah lama mbah putri saya tidak berjualan, dikarenakan sudah sepuh. Dagang, sudah mengalir bagi keluarga saya. Tak terkecuali dengan ibu saya, walaupun tak menjual sego pecel, ibu saya di kampung hingga hari ini adalah pedagang. Ia adalah pedagang ulung.

Tak seperti mbah putri saya, ibu saya hari ini berjualan hasil bumi. Padi terutama. Setiap musim panen tiba, rumah saya di kampung bisa dibilang ramai. Para petani menjual hasil tanamannnya kepada ibu saya. Tentang berdagang ini, saya sudah pernah menulis di sini dan di sini.

Mbah putri saya dulu berdagang atau buka warung di sebelah rumah saya, pernah juga di rumahnya sendiri.

Saat ini saya sudah lama tak makan sego pecel kampung. Paling-paling jika lebaran tiba, saya meminta ibu saya untuk memasak sego pecel atau masakan-masakan yang saya temui ketika kecil di kampung. Seperti soto, sambal terong, kering (orek), sayur asem + ikan asin, tempe goreng dan sambal tomat, dan lain-lain. Bisa dibilang, reuni dengan kenangan masa kecil.

Hari ini saya sudah lupa, berapa harga satu bungkus sego pecel di Ngawi. Saya taksir, masih di kisaran Rp 2.500 / bungkus, dan itu nasinya banyak sekali, berbeda dengan nasi uduk di Jakarta. Itupun sudah termasuk, tempe goreng satu lembar, gede. Saya kurang update untuk masalah ini, teman-teman yang di Ngawi mungkin tahu harganya.

Sego pecel sudah menjadi bagian hidup saya, dan juga kebanyakan warga Ngawi. Sego pecel adalah kita! Ya, bagi saya dan kebanyakan warga Ngawi.