Beberapa bulan terakhir ini rasanya saya tak semangat hidup. Faktor utamanya adalah pekerjaan. Fase pertama pekerjaan yang membuat saya down adalah di akhir tahun kemarin. Pertengahan bulan september adalah awal mula karir saya berada di ujung tanduk. September tahun lalu, di perusahaan saya sedang ada permasalahan, bisa dibilang untuk di divisi saya. Akan tetapi hanya divisi saya saja yang mendapat masalah, hampir perusahaan itu seperti berhenti malah bisa dikatakan melangkah mundur jauh.

Kejadian itu memiliki masa 3 bulan. Dan pada pertengahan desember lalu, harusnya saya sudah bisa bekerja dengan normal seperti biasanya. Tetapi masalah datang kembali, yaitu berbagai peraturan yang membuat saya semakin tidak nyaman untuk menjalani pekerjaan.

Kemudian baru berjalan sebulan, struktur organisasi di perusahaan tempat saya bekerja dirombak besar-besaran. Banyak karyawan yang “downgrade” jabatan. Banyak yang dipindah divisi oleh manajemen dan banyak yang dipindah lokasi pekerjaan. Pindah cabang atau bisa dikatakan dengan mutasi.

Kejadian seperti itu membuat banyak karyawan yang pindah kerja atau memutuskan resign. Adalah opsi terakhir sebenarnya jika saya memutuskan untuk berhenti dan pindah kerja.

Waktu diumumkan atau diberitahu atasan saya bahwa saya akan dipindahkan di cabang seputaran Permata Hijau, saya antara senang dan tidak. Rasanya, saya sudah nyaman dengan lokasi yang sudah 2,5 tahun saya mencari nafkah itu. Dan waktu itu yang dipindahkan di tempat baru itu adalah tiga orang. Saya, teman saya, dan kemudian atasan saya. Lalu, manajemen ada meeting besar-besaran lagi, bahwa atasan saya pindah divisi dan akhirnya pada hari itu, atasan saya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya.

Saya dan teman saya, sebagai bawahannya seperti anak kehilangan induk. Saya kalut dan berfikir negatif waktu itu. Dan yang paling saya pikirkan waktu itu adalah ingin segera menyusul atasan saya untuk resign.

Namun dalam hal ini, saya tidak seberani atasan saya. Pikir saya, “yaudah deh dicoba dulu siapa tahu pindah lokasi kerja akan menjadi lebih baik ke depannya”. Begitu pikiran saya waktu itu.

Dan per tanggal 18 Januari 2016 kemarin, saya resmi dipindahkan oleh manajemen perusahaan saya. Dengan struktur yang berbeda dan dengan sistem peraturan yang jauh berbeda dengan waktu pertama kali saya bekerja. Semua divisi sekarang menjadi tanggung jawab penuh oleh pimpinan cabang. Dan peraturan-peraturan lainnya yang membuat saya tidak betah menjalaninya.

Hingga hari ini, saya pindah cabang di tempat yang baru sudah 1,5 bulan. Rasanya, saya tidak ada nyamannya sama sekali. Bahkan, saya akhir-akhir ini wara-wiri untuk melamar pekerjaan. Beberapa lamaran pekerjaan saya layangkan ke perusahaan-perusahaan. Berbagai panggilan untuk wawancara saya hadiri. Berkali-kali psikotest dan sejenisnya saya lalui dengan semangat. Sudah 5 kali lebih saya melakukan itu namun hasilnya adalah nihil.

Faktor utamanya adalah ijazah saya SMK. Dan mayoritas lawan saya (yang melamar) adalah sarjana. Sarjana dari berbagai unviersitas terkemuka dan dari berbagai keahlian. Dalam hal ini, saya sudah kalah telak di depan. Perlu diketehaui, bahwa lulusan tinggi tidak menjamin kemampuan seseorang. Skill bukan di dapat hanya di sekolahan formal saja.

Jika perlu, saya analogikan bahwa jika diadu head-to-head saya berani. Maksudnya diadu dalam konteks ini adalah skill. Bukan adu fisik. Namun, mayoritas perusahaan tidak melihatnya secara real dan jelas. Ia melihat di awal, ketentuannya yang sudah punya ijazah S1 ke atas. Bahwa jika SMU sederajat tidak layak untuk bekerja di tempat itu. Dan mungkin jika dipanggil untuk interview itu hanyalah sebuah langkah formalitas belaka.

Maka dari itu, di tahap yang sangat mendasar ini saya kalah telak dan jauh tertinggal dengan lawan-lawan saya. Saya di sini tidak mengeluh dengan perusahaan yang saya lamar. Mungkin orang-orang HR-nya (Human Resource) hanya menjalankan SOP dari perusahaan.

Saya tak akan merengek-rengek kepada keluarga saya untuk mencarikan pekerjaan. Dan saya wajib berusaha dengan jerih payah sendiri untuk mendapatkan pekerjaan. Jika saya mengandalkan sanak-family bukankah itu namanya KKN? Dan hal semacam ini masih langgeng terjadi di masyarakat kita. Si ini bawaan pak Budi. Si ini ponakannya ibu Ani dan lain-lain.

Memang benar, jika ada orang “dalam”, melamar pekerjaan akan mudah dan untuk diterima presentasenya sangat besar. Namun, jika sudah bekerja akan mendapati hal semacam ini, “jika membuat masalah” orang yang membawa akan disangkut-pautkan. Maksudnya begini, misalnya saya bekerja di PT. ABC. Dulu ketika saya mulai bekerja direferensiin oleh kakak saya. Karena kakak saya sudah bekerja lama di PT. ABC tersebut. Kemudian, jika saya membuat masalah atau melakukan kesalahan dalam bekerja. Otomatis kakak saya kena imbasnya karena kelakuan saya bukan? Dan pada akhirnya saya malu dan gak enak dengan kakak saya, juga kakak saya tidak enak dengan perusahaannya.

Pada tahap ini, sudah jelas bekerja dibawa orang itu ada enaknya dan juga tidak enaknya. Namun bukan poin ini yang saya ingin katakan. Poinnya adalah “jika masih banyak terjadinya KKN, rasa-rasanya skill dan ilmu itu adalah tidak bermanfaat. Mau bermanfaat bagaimana, lhawong sudah diduluin oleh para sanak-familinya jika ada posisi yang lowong”.

Begitulah kira-kira sistem melamar pekerjaan di Indonesia ini jika tidak akan dirubah.

Padahal saya di awal mau menuliskan kenapa saya lama tak ngeblog, kok jadi

melebar kemana-kemana begini. Ah biarin, yang terpenting adalah blog saya banyak pengunjungnya dan semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi kalian-kalian yang sedang pontang-panting mencari pekerjaan. Tuhan bersama kalian, guys!!

Salam kerja, kerja, kerja! Ha!