Mungkin saya akan sedikit curhat tentang kehidupan setelah menikah. Percayalah, saya tidak akan membuat baper bagi teman-teman yang belum memiliki pasangan, sudah memiliki pasangan tapi belum segera sah, dan status lainnya.

Seperti yang teman-teman ketahui, bahwa saya menikah pada Maret 2018, di usia 25 tahun. Usia tersebut sebenarnya bisa dikatakan masih muda banget untuk menikah, apalagi bagi yang tinggal di kota-kota besar. Namun, yang mau saya ceritakan bukan tentang usia, bukan tentang muda, atau kecil.

Saya pertama kali bertemu dengan istri di salah satu event yang diadakan oleh salah satu Komunitas Blogger. Waktu itu istri pertama kali mengikuti event-nya. Kata orang dan bahkan banyak orang bilang mengenai cinta pada pandangan pertama, akan tetapi tidak bagi saya. Biasa saja.

Waktu terus berjalan, dan saya dekat dengan istri. Namun masih sedikit orang yang tahu. Dan sekitar tiga bulan sebelum menikah, kami baru terbuka ke semua orang. Senang? Tentu saja.

Karena saya dan istri memiliki hobi yang sama, yakni ngeblog atau menulis. Jadilah terkadang obrolan kami ya itu-itu saja, blog, nulis, desain blog, dan lain sebagainya. Monoton bukan? Tentu tidak, karena selain itu, kami membicarakan banyak hal. Dan inilah serunya.

Memutuskan Untuk Menikah

Saya masih ingat meyakinkan istri, bahwa saya adalah lelaki yang tepat untuk dirinya. Bertempat di salah satu taman di Jakarta Selatan, suasana malam itu riuh rendah oleh pengunjung yang hilir mudik, disertai sesekali ada pengamen yang menginterupsi obrolan kami.

Sorot lampu yang remang, dan malam yang dingin di salah satu taman di Jakarta, saya meyakinkan bahwa “aku” bisa membahagiakan dirinya dan melewati hidup berdua.

Bulan Desember 2017 saya mendatangi rumah istri. Waktu itu perasaan campur aduk. Saya, hanya seorang pekerja paruh waktu, dan tidak memiliki penghasilan tetap, berani meminang anak gadis! Tapi, niat saya sudah kuat dan bulat.

Saya memberanikan untuk datang ke Majalengka, rumah orangtuanya. Tentu saya datang dengan calon istri, karena kami berangkat bareng dari Jakarta. Sampai di rumah lebih horor lagi. Jantung di dada terus memompa dengan durasi semakin cepat. Kebetulan waktu itu malam dan hujan. Semakin membuat pikiran-pikiran tambah campur aduk.

Sebagai tamu pada umumnya, saya menyampaikan maksud kedatangan saya. Dengan terbata-bata dan penuh hati-hati, saya membuka sepatah dua patah kata, kalimat. Dan, ya, akhirnya niat saya tersampaikan. Setelah perjalanan yang mendebarkan tersebut, saya semakin yakin untuk menikah.

Dua bulan berjalan setelah kedatangan tersebut, proses lamaran dilaksanakan. Dalam perjalanan menuju rumahnya, perasaan saya lebih campur aduk lagi dibanding saat pertama kali saya datang sendirian.

Lamaran berlangsung sederhana, dan perasaan saya sedikit lega. Proses demi proses kami lewati dengan lancar. Pada lamaran tersebut keluarga saya dan keluarganya menyepakati hari pernikahan. Ya, kami memutuskan 18 Maret 2018.

Akhirnya Menikah

Memutuskan untuk menikah sebenarnya penuh dengan pertimbangan. Dan beruntunglah bagi kalian yang ketika melakukan pernikahan dengan lancar tanpa adanya kendala.

Proses yang panjang dan penuh dengan drama kami lewati. Dan akhirnya hari yang kami tunggu tiba juga. Acara pernikahan berjalan dengan sangat sederhana. Proses pengucapanan ijab qabul juga membuat saya super deg-degan. Yeah! Cukup satu percobaan, dan setelah itu langsung sah. leganya, tanpa ada pengulangan.

Banyak yang masih belum percaya bahwa saya sebagai freelancer berani menikahi anak orang, dan bagaimana nanti makan dan lain sebagainya. Tapi, pikiran-pikiran atau omongan tersebut, saya jadikan motivasi bahwa saya bisa dan bertanggung jawab.

Kehidupan Setelah Menikah

Sebagai seorang yang tidak tahu tentang kehidupan rumah tangga, tentunya kami masih meraba-raba bagaimana untuk hidup ke depan. Saya tidak membayangkan betapa cepatnya saya menyandang status sebagai suami.

Saya dan istri meski bersebelahan, tapi tetap bekerja masing-masing
Saya dan istri meski bersebelahan, tapi tetap bekerja masing-masing

Setelah menikah, saya dan istri kesehariannya masih menghitung setiap pemasukan dan pengeluaran. Berbicara soal pengelolaan keuangan, kami sangat boros. Bahkan bisa dikatakan pengeluarannya banyak.

Seperti yang sudah saya info di atas bahwa saya dan istri adalah memiliki latar belakang dan hobi yang sama. Oleh karena itu, kami sering menghabiskan waktu di luar.

Misalnya ketika kami mendapat banyak tugas dan deadline sudah dekat. Kami langsung menuju di kedai atau salah satu kafe langganan. Bisa dibilang dalam satu minggu kami bisa nongkrong lebih dari 3 kali.

Tentu saja dengan gaya hidup yang seperti ini, membuat pengeluaran membengkak. Inginnya sih kita bisa mengerjakan di rumah, tapi keinginan tersebut terkadang gagal oleh, misalnya koneksi internet kurang lancar, kurang nyaman, dan lain sebagainya.

Pemikiran-pemikiran negatif di awal, bahwa saya sebagai freelancer tidak bisa menghidupi istri, ternyata rezeki demi rezeki terus mengalir dalam keluarga kami.

Ada saja rezeki yang tak terduga menghampiri keluarga kami. Misalnya saat kami pindah kontrakan beberapa waktu lalu, kami hanya memegang uang minim sekali. Dan selang beberapa hari, kami mendapatkan rezeki yang terus mengalir.

Setiap keluarga pasti dikasih lebih mengenai rezeki. Jadi bagi kamu yang saat ini sedang merencanakan pernikahan, dan bingung karena biaya, dan lain sebagainya. Percayalah, rezeki akan mendatangimu. Tanpa kamu duga.

Percayalah, bahwa kita yang ingin melakukan kebaikan, apalagi menikah, pasti dikasih lebih dari Tuhan, entah bagaimana caranya dan lewat apa.

Lantas Bagaimana kehidupan saya setelah menikah?

Dengan kamu membaca dari awal hingga sampai kalimat ini, mungkin kamu bisa menyimpukan kehidupan saya seperti apa. Bukan saya pamer, tapi, rezeki menikah itu selalu ada kok. Percayalah, pasti dikasih lebih.

#PastiDiKasihLebih

13 COMMENTS

  1. Baca ini kok ya jjadi baper #ehh hahaha
    Btw bener bangett,,, rezeki udah ada yang ngatur dan pasti selalu ada. Kalian juga kayaknya mirip sama saya, kalau lagi ada PR yang butuh wifi kenceng lasti deh ke jajan ke kaefci hehehe.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here