“Bukti keseriusan lelaki ke pasangannya adalah dengan datang dan menemui orantuanya untuk melamar dan dilanjut dengan menikah”

Kutipan di atas sepertinya sudah menjadi kutipan yang tidak asing bagi teman-teman. Pasti banyak di antara yang baca blog ini, sudah berhubungan lama dengan pasangannya, tapi belum menapak ke jenjang pernikahan. Setiap pasangan pasti menginginkan hubungannya ke pelaminan bukan?

Menikah. Satu kata yang sering “meneror” kepada mereka yang sudah menginjak usia matang, yakni sekitar 25 tahun ke atas. Begitupula dengan diri saya saat masih lajang beberapa waktu lalu. Ketika reuni atau ketemu saudara, tak jarang pertanyaan tentang menikah selalu menghampiri.

Di awal tulisan, sengaja saya tulis tentang kutipan keseriusan seorang lelaki kepada pasangannya adalah dengan melamar. Hal ini juga saya lakukan beberapa bulan lalu, mungkin hampir setahun yang lalu.

Jadi ceritanya calon istri dulu menantang atau bisa dibilang, kalau ingin serius, maka harus berani bisa ke jenjang lebih lanjut, yakni menikah. Ia tidak mau lama-lama pacaran. Karena usia kami yang sudah matang dan tepat untuk menikah.

Dengan tantangan tersebut, tak lama dari itu saya konsultasi dengan dua saudara, dan juga kepada orangtua, bahwa saya ingin menikah. Mungkin keputusan yang bisa dikatakan mendadak. Tapi, keputusan saya sudah bulat bahwa memang dia, adalah jodoh say.

Pertengan bulan Desember 2017, saya datang ke rumah calon istri untuk membuktikan bahwa saya benar-benar serius dan ingin menikah. Saya berangkat dari Jakarta bersama calon istri naik kereta dari stasiun Gambir menuju Cirebon.

Saat melangkahkan kaki masuk kereta, pikiran saya tak menentu. Campur aduk. Antara takut dan bahagia. Takutnya adalah saya pertama kali datang kok malah ingin ‘berbicara serius”. Maka di dalam kereta, saya sok-sokan tenang dan slow di depan calon istri. Padahal jantung saya frekuensi detaknya semakin cepat.

Perjalanan Gambir ke Cirebon memakan waktu sekitar 3 jam, dan selama 3 jam tersebut saya sebentar-sebantar merapal doa agar saat sampai di rumahnya lancar. Saya juga sedikit demi sedikit merangkai kata, untuk menghadapi calon mertua. Bisa dibilang saat itu, saya sangat multitasking. Doa, merangkai kata, deg-degan, sok cool semuanya jadi satu.

Menjelang magrib kami tiba di Cirebon. Suasana semakin mendebarkan, apalagi ditambah waktu itu hujan turun. Ahhh, benar-benar menguras pikiran dan tenaga.

Istri Mencoba Nasi Jamblang
Istri Mencoba Nasi Jamblang

Kami mampir membeli makan di sekitar stasiun Cirebon. Saya dan calon istri memutuskan untuk membeli nasi jamblang. Saya baru pertama kali mencoba makan nasi jamblang. Enak atau gak enak? Ah, lupa. Pikiran saya sudah fokus bagaimana merangkai kata yang tepat untuk dilontarkan ke orangtua calon istri.

Konsepnya Self Service
Konsepnya Self Service

Oh ya dari awal tulisan hingga sekarang, saya belum memberi tahu mengenai kampung istri. Jadi kampung istri saya itu di Majelengka, Jawa Barat. Salah satu moda transportasi yang bisa ditempuh dari Jakarta adalah dengan menggunakan kereta.

Stasiun terdekat dari Majalengka adalah Cirebon. Kemudian setelah sampai di stasiun Cirebon, masih harus menempuh perjalanan darat dengan bis atau mobil, sekitar satu jam lebih.

Warung Nasi Jamblang sekitar Stasiun Cirebon
Warung Nasi Jamblang sekitar Stasiun Cirebon

Jadi perjalanan saya untuk datang ke rumah calon istri masih harus ditempuh dengan bus atau sewa mobil cirebon. Bagi teman-teman yang sedang di Cirebon bisa menggunakan rental mobil Cirebon di nomor 08156407913 atau yang lain dengan banyak pilihan.

Setelah saya dan calon istri selesai mengisi perut dengan nasi jamblang, kami tak langsung melanjutkan perjalanan ke Majalengka. Hal ini karena cuaca sedang hujan. Oh ya, tambah satu lagi, ketika teman-teman di Cirebon saat ingin ke Majalengka juga bisa sewa mobil murah cirebon atau bisa naik kendaraan umum tergantung pilhan dan selera. Jika tidak ingin berdesak-desakkan, ya bisa menyewa.

Setelah cuaca agak mendingan, kami melanjutkan perjalanan untuk menuju Majalengka. Dengan perasan semakin deg-degan, fokus saya sudah tidak lagi pada rute dan bagaimana sopir berkendara.

Sekitar lebih dari satu jam, akhirnya saya menginjakkan kaki di Majalengka. Ini adalah pertama kalinya saya ke Majalengka dalam hidup. Ternyata hujan di luar semakin menjadi, dan jika muka atau wajah saya difoto, mungkin sangat merah. Karena capek dan deg-degan.

Lalu, bagaimana setelah saya benar-benar sampai di depan rumahnya dan disambut kedua orantuanya dan kakak calon istri? Ceritanya masih panjaaaang. Nanti akan saya lanjut di postingan mendatang, ya. 😀

5 COMMENTS

  1. setelah membaca story mas robit yang bikin deg-deg an ke kampung calon istri untuk bilang mau (((lebih serius))) ini, saya berasa makin deg-deg an juga ya karena memang mau segera menyempatkan bertemu calon mertua hehehe

    story diatas bagi saya sangat menarik sekaligus memotivasi diri saya bahwa saya jua harus bisa mengalahkan ketakutan dan keraguan untuk raih masa depan bahagia bareng istri kelak, amin.

    Langgeng dan sehat terus ya buat mas robit dan mba shinta. Amin…

  2. Yah.. memang… walaupun harus “Mendaki gunung dan melewati lembah”, kalau tujuannya ke tempat orang yang kita sayangi memang gak kerasa capeknya.

    Sama halnya dengan Saya yang juga kalau mudik ya ke kampung :v

    Tapi setelah balik ke kota, perjalanan ke kampung yang dilalui rasanya ingin diulang lagi. Hehehe.

    • Mendaki gunung dan melewati lembah ini masih terngiang banget kalimatnya, Bang. Kelihatan sering nonton kartun ini. Waahaha

  3. keren banget bisa menuangkan isi perjalanan selama on the way ke rumah orang tua calon. biasanya susah banget buat diungkapin (apalagi yang bagian deg-degannya). Bisa melewati saja sudah alhamdulillah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here