Mudik adalah salah satu hal yang menyenangkan bagi hidup saya, pun dengan para perantau di seluruh Indonesia. Apalagi budaya mudik di Indonesia itu sangat mengasikkan. Selama satu tahun merantau di tanah orang, kemudian kita kembali ke kampung halaman masing-masing.

Tentunya setiap orang memiliki ceritanya saat mudik. Terlebih lagi jika ada yang sudah bertahun-tahun tidak pulang kampung, maka rasa rindu dengan keluarga, teman, sahabat, atau tetangga sekitar yang telah disimpannya akan dikeluarkan saat pulang kampung.

Setelah menjadi seorang perantau selama tujuh tahun, setiap lebaran datang, pasti saya mudik. Meskipun dengan cara apa pun, dan ketika uang di dompet cekak. yang namanya mudik tetap saya lakukan.

Esensi mudik bagi saya sangat dalam. Karena di keluarga kami, dua kakak saya yang juga sebagai perantau, setiap tahunnya pasti melakukan rutinitas mudik. Maka saya sebagai anak ketiga juga mengikuti tradisi kedua kakak.

Selama tujuh kali mudik, saya memiliki sejuta cerita untuk dikenang. Pernah mudik dengan mengendarai sepeda motor lebih dari 20 jam di perjalanan. Berpanas-panasan di jalan. Tidur di tepi SPBU, atau di warung-warung kecil yang siap menyapa para pemudik.

Banyak sekali yang bisa saya ceritakan persoalan mudik. Dari mulai naik kereta, pesawat, dan lain sebagainya. Namun mudik tahun ini berbeda dengan mudik sebelum-sebelumnya. Karena saya tiga bulan sebelum mudik, telah melangsungkan pernikahan.

Istri saya saat melakukan perjalanan mudik
Istri saya saat melakukan perjalanan mudik

Oleh karena itu, ketika mudik terasa berbeda dan sangat spesial karena mudik untuk pertama kalinya bawa istri. Sebelumnya saya menyiapkan apa yang harus dibawa dan hal-hal lainnya sendirian, kini saya melakukan berdua. Bahkan malah bisa dikata saya tinggal berangkat saja. Karena mulai dari pakaian dan peralatan apa yang harus dibawa sudah disiapkan oleh istri.

Menikmati kampung halaman
Sebelum mudik, istri di bulan Desember tahun lalu sudah pernah saya ajak pulang ke rumah. Meskipun hanya beberapa hari, dan tak sempat pergi ke mana-mana. Karena kami waktu itu sehari setelah sampai kampung, melanjutkan pergi ke Malang untuk menghadiri teman yang melangsungkan pernikahan.

Pada saat mudik inilah kami bisa menikmati kampung halaman selama lebih dari sepuluh hari. Rasanya seperti mimpi. Dulu saya memiliki keinginan, kapan saya bisa mudik bareng istri dan bisa berkumpul dengan keluarga di rumah. Ternyata di tahun 2018 keinginan tersebut dikabulkan oleh Tuhan.

Menikmati Mudik di Sawah
Menikmati Mudik di Sawah

Selama sepuluh hari di kampung saya dan istri tak ke mana-mana sebenarnya. Kami menikmati waktu bersama keluarga dan bercerita mengenai keadaan, kondisi, dan lain sebagainya.

Mudik tahun ini memang sangat spesial dan saya sangat menikmatinya. Meskipun biaya yang kami habiskan dua kali lipat juga dibandingkan saat saya masih lajang. Semoga teman-teman yang tidak bisa mudik tahun ini bisa terobati di mudik tahun depan. Kalau kamu bagaimana cerita mudiknya?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here